Journey to South Celebes (1)

This is it! Yang akhirnya muncul juga setelah entah berapa lama tak muncul-muncul. Semoga cerita perjalanan ini bisa ikut membawa Anda seperti berpetualang ke Sulawesi Selatan😀

15 Mei 2013

Aku langsung berdecak kagum dengan kemewahan Bandara Hassanudin, Makassar. Sembari menunggu jemputan rombongan dari Jakarta yang sudah datang dan berkeliling Makassar lebih dulu, aku pergi ke depan bandara dan menemukan lampu berkilauan dan air mancur yang romantis. Tempat ini kayaknya lebih cocok buat santai dan pacaran, dilihat dari banyaknya orang yang sekedar duduk-duduk di tangga. Entah benar-benar mau piknik atau mau jemput orang di bandara.

Bandara Hasanuddin

Dari bandara, kami langsung tergesa-gesa menuju tempat ngepool bus yang bakal membawa kami ke Toraja. Yes, destinasi pertama setelah menjejakkan kaki di Sulsel adalah Toraja. Katanya dari bandara ke terminal lebih jauh, jadi mending nunggu dekat poolnya bus mengingat busnya berangkat jam 8 malem. Udah gak sempet cari makan malam, eh, ternyata busnya baru dateng di pool situ jam 21.30. Ngik, krik, krok. Untung bawa roti dari Surabaya jadi lumayan buat ganjel lambung. Dan apesnya, aku dapet kursi di bus yang gak bisa diturunin sandaran punggungnya. Hasilnya, selama 8 jam di bus aku tidur dengan posisi tegak. Lupa nama busnya apaan, pokoknya ndak recommended >.<

16 Mei 2013
06.00
Selamat datang di Makale, Toraja.

Makale

Selamat Datang di Makale, Tana Toraja

Udah dikasih pesen ama temennya si Om yang aneh itu buat minta diturunin di Wisma Yani depan kolam renang. Kami yang baru aja melek langsung gak percaya dengan bangunan yang berdiri di depan kami. Bangunannya kuno banget, gak ada modern-modernnya. Dan kami kebingungan di mana rumah tadi harus diketuk karena terasa seperti bukan wisma, tapi hanya rumah tinggal biasa.

Setelah diketuk, ada seorang bapak yang membukakan. si Om menjelaskan sedemikian rupa dan kami dipersilahkan untuk masuk. 3 kamar dibuka untuk kami dan jeng, jeng, jeng, aku menemukan kamar yang beraroma lembab dan tentu saja spooky. Ini dia penampakan kamar mandi terspooky versi Maretha 2013.

spooky bathroom
Gimana mau mandi dengan kamar mandi kayak gitu? Tapi kalo ingat terakhir aku mandi adalah siang sebelum berangkat ke Surabaya, aku memberanikan diri untuk mandi di kamar mandi ajaib itu. Selesai mandi, tentu aja merebahkan diri sejenak di atas kasur yang aku juga takut untuk menidurinya. Huhuhu.

07.30
Mobil yang disewa beserta sopirnya sudah siap di depan wisma. Kemudian kami meluncur menuju sebuah rumah makan muslim. Iya, selama di Toraja harus pinter milih tempat makan karena mayoritas penduduk di sini beragama Kristen. Beruntunglah kami ketika makan, kami bertemu dengan Bapak Usman yang mengaku berprofesi sebagai guide di Toraja. Beliau baik hati sekali membuatkan itinerary di Toraja dan memberitahukan pada kami tempat mana yang sedang mengadakan Rambu Solo yaitu upacara pemakaman di Toraja yang sangat terkenal dan sanggup menyedot perhatian banyak pengunjung.

Destinasi 1, Lemo adalah sebuah kuburan liang. Di mana ada bukit batu yang memiliki banyak kayu seperti pintu. Nah, di dalam pintu situlah, para penduduk menyemayamkan jasad saudara-saudaranya yang telah meninggal. Satu pintu artinya satu keluarga. Patung-patung yang ada di sini katanya patung para bangsawan.

Lemo

Lemo

Lemo2

Liang Kubur di Lemo

Destinasi 2, Kete Kesu merupakan sebuah kampung perumahan adat Toraja, Tongkonan yang juga dilengkapi miniatur kuburan yang ada di Toraja. Singkatnya kalo sudah ke Kete Kesu bisa lihat Toraja secara keseluruhan. Katanya sih begitu ya. Kebetulan rumah-rumah tongkonan di sini lagi dipermak, menyambut pesta kematian nanti di bulan enam. Jadi biasanya pesta seperti ini malah diadakan pas liburan anak sekolah, bulan enam dan bulan dua belas. Biar para pengunjung bisa ikut menyaksikan pesta ini. Tapi pesta yang biasa disebut Rambu Solo ini gak cuma berlangsung sehari lho, bisa seminggu.

Kayaknya wajib ya foto dengan background begitu :D

Kayaknya wajib ya foto dengan background begitu😀

Di dalam Kete Kesu nanti bisa dilihat seperti rumah dengan patung 2 kakek nenek di depannya. Katanya itu rumah tempat menyimpan jasad kakek nenek tersebut. Dan katanya lagi, buat bikin rumah dan patung itu butuh biaya bermilyar-milyar. Jadi otomatis yang punya patung seperti itu adalah golongan bangsawan.

Ini dia patung kakek nenek yang mihil ampun

Ini dia patung kakek nenek yang mihil ampun

Akur karena bisa berdampingan #alah

Akur karena bisa berdampingan #alah

Destinasi 3, upacara Rambu Solo di Randon Batu. Beruntungnya kami bisa bertemu dengan pesta kematian ini. Meskipun kami datang bukan di acara puncak, tapi tetep aja seru juga bisa berkesempatan lihat. Kebetulan hujan baru mengguyur Toraja semalam, jadi jalannya becek banget. Yang sedang dibuatkan pesta adalah seorang polisi. Pas dateng, pas peti mayatnya (aku gak tau nyebutnya apa) lagi didoain sama segerombolan bapak-bapak. Kemudian peti tadi diusung dan diarak menuju jalan besar. Setelah diarak, nanti peti mayat itu diinapkan di lakian sembari menunggu acara puncak yaitu pemotongan kerbau-kerbau dan babi-babi di hari Sabtu.

Lagi berdoa sebelum arak-arakan

Lagi berdoa sebelum arak-arakan

Maksud hati mau foto-foto sama adik-adik cantik yang pake baju adat Toraja, eh, kok malah ketemu sama keponakan dari almarhum. Terus kami malah nanya-nanya tentang upacara ini. Jadi, hari ini bukan acara puncak dari Rambu Solo. Acara puncaknya baru 2 hari lagi. Apaan sih acara puncak dari upacara pemakaman ini? Yaitu pemotongan kerbau-kerbau yang sudah disiapkan oleh pihak keluarga. Dan asal tau aja, gak sembarang kerbau bisa dikorbankan. Satu di antara puluhan kerbau itu harus ada yang namanya kerbau bule atau kerbau albino yang per ekornya bisa mencapai harga 350 juta. Waow, fantastis!

Berikut percakapan kami (yang tentu saja diedit dengan berbagai gaya)
Pelancong kece alias kami (P): “Trus kalo harus ada kerbau bule gitu, maaf ya sebelumnya, dapet duitnya dari mana?”
Kakak keponakan almarhum yang kece (K): “Biasanya keluarga semua pada patungan. mulai dari anak, keponakan, cucu, sodara jauh, dan semua yang mau nyumbang.”
P: “Wait, CUCU?”
K: “Iya. Masalah?”
P: “Berarti lama banget dong bisa dikuburkan jenazah itu?”
K: “Iya emang. Nunggu sampe duitnya kekumpul dan bikin acara adat begini.”
P: “Terus, kalo omnya kakak meninggalnya kapan?”
K:”Udah setaun.”
P: “HAH? Setaun?”
K: “Iya. Masalah?”
P: “Terus mayatnya ditaruh di mana Kak? Rumah?”
K: “He’em, ditidurkan di kamarnya, sama kayak sehari-harinya beliau dulu. Kemarin aku malah tidur di kamarnya, bareng Om.”
P: “Gi.. gi.. gitu gak ta.. ta.. takut, Kak?” *begidik ngeri sendiri*
K: “Awalnya ya ngrasa takut, tapi buat apa takut juga. Om itu baik banget jadi gak usah takut.”
P: *tepok jidat*
K: “Sekarang jenazah di dalam peti tadi dibawa ke mana Kak?”
P: “Diarak keliling. Tapi rutenya ke mana aku kurang tau juga. Setelah sampe, nanti ditaruh di lakkian.”
K: “Kalo udah ditaruh ke lakkian, nanti tamu-tamu itu bisa masuk ke sini. Ini namanya rumah terima tamu.”
P: “Oh, gitu. Kak, boleh minta foto bareng ga?” *kalo ini pasti kerjaannya si Om @Tukang_Jalan. No doubt*
K: “Boleh, boleh.”
Cekrik.

Happy family

si Om mana? Ya yang moto laah :p

Kami kemudian berpamitan dan siap menuju tujuan selanjutnya.

Destinasi 4, Londa. Hampir semua tempat yang didatangi adalah kuburan. Kali ini kuburannya ada di semacam gua. Kalo masuk ke sini agak ati-ati karena gelap. Jadi bawa senter sendiri terus kalo berani ya masuk-masuk sendiri atau minta ditemani guide sambil dibawain petromak. Terserah Anda.
Apa ya? Sebenarnya hampir sama dengan tempat yang lain, mungkin yang membuat tempat ini beda adalah karena terdapat dua tulang belulang dari Romeo-Julietnya Toraja. Katanya hubungan mereka gak disetujui terus mereka bunuh diri deh. Kabarnya tidak disetujuinya hubungan mereka karena masih ada hubungan darah.

londa2

Romeo-Juliet Tana Toraja

Kalo mau ambil foto bareng tengkorak-tengkorak di sini juga gapapa kok, asal berani. Hehehe.

Entah kenapa wajahnya ceria foto bareng tengkorak T.T

Entah kenapa wajahnya ceria foto bareng tengkorak T.T

Destinasi 5, Baby Grave. Hari semakin sore dan hujan mengguyur Tana Toraja. Sebelum kembali ke kota Makale, kami dibelokkan ke tempat kuburan bayi oleh si sopir.

Kami disambut oleh seorang ibu muda yang dengan baik hati bertanya kami berasal dari mana dan sudah keliling ke mana saja. Dan percakapan ini lagi-lagi banyak diedit.
P: “Tadi kami sempat liat Rambu Solo tapi bukan acara puncaknya. Cuma dapet pas arak-arakan”
Si ibu muda baik hati dan suka menolong (I): “Wah, dapat yang arak-arakan?” *wajahnya takjub*
P: “Iya, Bu. Kenapa?”
I: “Itu berarti orang kaya betul. Kalo sudah diarak begitu, minimal kerbau yang dipersembahkan ada 24. Minimal. Dan harus ada minimal 1 kerbau bule itu.”
P: *kalkulasi biaya beli kerbau* *jaw dropping*
I: “Meninggal kapan katanya?”
P: “1 tahun yang lalu”
I: “Wah, keluarga kaya betul. Baru satu tahun sudah diupacarakan. Kadang ada yang sampai berpuluh tahun untuk ngumpulkan biayanya.”
P: *nelen ludah* GLEK.

Kemudian kami masuk ke dalam dan menemui satu pohon besar yang berdiri sendirian. Jadi ya di situ kuburan bayinya. Adalah khusus bayi yang belum tumbuh giginya, jenazahnya dimasukkan ke dalam batang pohon. Dilubangi dulu, terus dimasukin deh. Eh, lama-lama lubangnya nutup lho. Dan sampe sekarang pohon itu tetap tumbuh daunnya katanya karena dapet nutrisi dari tulang rawan mayat bayi-bayi itu. Cuma seiring berkembangnya jaman, sekarang pohon ini sudah tak lagi digunakan sebagai kuburan bayi.

Itu Mbak Anggun. Jomblo lho :p

Itu Mbak Anggun. Jomblo lho :p

Hari mau gelap, kami belum juga sholat. Ngebut ke masjid di kota Makale, kemudian menunaikan kewajiban sholat dan makan siang sekaligus malam di warung sebelah masjid.

“Ini jadi nginep ato langsung balik Makasar?” ujar si Om.

Menurut itinerary awal, harusnya kami nginap dan besok langsung berangkat ke Bira. Tapi ternyata si Om ini belum ada transport menuju Bira. Dan kata si sopir biasanya juga ke Makassar dulu baru ke Bira. Lah? Aku yang begitu kepinginnya city tour Makassar sambil kulineran jadi bingung deh mau ikut ke Bira atau di Makassar aja. Dengan asumsi, aku sudah bosan pantai dan kalo gak ke Bira sekarang jadi punya alasan balik lagi kemari. Wkwkwkwk.

“Menurutku, Toraja cuma gini-gini aja. Gak ada yang menarik untuk digali lagi.” Si Om kembali berujar.
“Kalo balik sekarang gimana? Gak capek kan?” tanyanya lagi. *ketauan banget ya cerewetnya*

Mengingat homestay kami spooky tingkat tinggi, aku mending tidur di bus. Dan aku keukeuh mau beli tiket Bus Bintang Prima yang banyak direkomendasikan orang-orang. Setelah makan beli tiket dulu terus kembali ke homestay buat mandi dan beres-beres barang.

Ketika leyeh-leyeh di kasur kamar,
Retha (R): “Ibuk kalo ikut ke Bira gimana? Ntar capek gak?”
Ibuk (I): “Insya Allah enggak.”
R: “Beneran nih?”
I: “Iya, insya Allah kuat.”
R: “Dari Makassar masih 5 jam lagi ke Bira lho.”
I: “Iya, gapapa.”
R: “Atau mau berubah pikiran aja kita stay di Makassar? Coba aku nanya temenku dulu ya bisa nemenin ato enggak.”

Kemudian, kupencet kontak BBM salah satu teman di Makasssar, Ayik. Ngobrol-ngobrol, nanya tempat bagus di sekitaran Makassar dan kemudian dia menanyakan mau berapa hari aku di Makassar. Kujawab 3 hari, dan dia bilang, “wah, kalo 3 hari di sini ya kelamaan. Terus aku lagi sibuk urus PPDS nih, gak bisa nemenin.” Ngik. Skak mat. Ya udah deh, akhirnya diputuskan ngikut ke Bira juga biar hemat ongkos pisan. Alhamdulillah, dikasih nomer rental mobil yang rekomendasi.

Jam setengah 9 kami sudah bersiap ke kantor bus Bintang Prima buat dijemput. Kota Makale sudah sepi krik krik gitu. Mengingatkanku pada Alor. Dan begitu bus datang, kyaaa, busnya baguuuus banget. Kalah jauh ama bus yang pertama. Meski harganya lebih mahal 10 ribu, tapi nyaman banget. Dan terbukti, aku bisa tidur nyenyak sampe pool terakhir bus di Makassar.

17 Mei 2013
06.00

Makassar, di jalan Pettarani menunggu jemputan buat ke Bira. Iya, aku jadi ke Bira. Bahahaha. Semoga perjalanan yang sangat amat panjang ini gak bikin emakku kecapekan. Perjalanan yang benar-benar gila.

_bersambung_

coming soon on this blog ^^

coming soon on this blog ^^

4 thoughts on “Journey to South Celebes (1)

    • Layaknya warga keturunan Cina kalo meninggal di atas usia 90 malah pesta besar-besaran. Yah, namanya juga adat, Kak. Nanti mau dikubur di tanah ato dimasukkan di salah satu kuburan di atas juga kesepakatan keluarga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s