Virgin Love

Aku belajar dari ibuku bagaimana memperlakukan cinta dan kepada siapa cinta itu boleh diberikan. Aku terlahir dari seorang ibu yang hidup sendiri tanpa seorang suami yang setia mendampinginya selalu.

Aku terlahir dari seorang ibu yang terpaksa meninggalkan kemewahan yang dia miliki sebelum dia mengandung diriku. Aku menyimak ibu menceritakan hal ini ketika aku berulang tahun kedua belas. Tepat ketika aku akan masuk sekolah menengah pertama.

Ibuku dulu bertemu dengan seorang laki-laki, kakak kelasnya yang suka menggoda dirinya ketika pulang sekolah. Awalnya ibuku tidak suka dengan tingkah laki-laki itu. Lama kelamaan, ibuku merasa sepi ketika laki-laki itu tidak menggoda dirinya. Ibuku mulai mencari tahu siapa sebenarnya anak laki-laki itu. Dan singkat kata, ibu menyadari dia sudah jatuh cinta.
Ibuku berasal dari keluarga yang cukup terpandang di daerah asalnya. Kakek dan nenekku memiliki pesantren. Tentu saja, dalam keluarga ibuku, agama adalah nomor satu dan wajib ditanamkan sejak dini. Tapi ibuku yang masih duduk di bangku SMA kala itu, dibutakan dengan cinta. Katanya laki-laki itu cinta pertamanya. Dia tergila-gila dengan laki-laki yang kerap menggodanya, terbuai dengan sejuta harapan yang dijanjikan oleh laki-laki ini. Kakek sebenarnya tidak setuju ibuku memiliki hubungan dengan lawan jenis sebelum menikah, tapi laki-laki yang dicintai ibuku ini bisa meraih hati kakek dan nenek. Santun, begitu pendapat kakek dan nenek tentang laki-laki ini.

Hingga suatu hari, ibuku diajak pergi ke sebuah tempat oleh laki-laki itu. Ibu diperlakukan seolah ibu adalah satu-satunya wanita tercantik di dunia ini. Ibu merasa menjadi perempuan paling bahagia di dunia hanya dalam sekejap. Dengan alasan cinta, dengan mengagung-agungkan nama cinta, mereka bercinta. Si laki-laki berjanji akan selalu setia di samping ibu, akan menanggung segala resiko yang akan terjadi. Namun, janji tinggallah janji. Laki-laki itu atau yang bisa saja kupanggil ayah meninggalkan ibuku kala aku berusia 4 minggu dalam rahim ibu.

Ibu frustasi. Waktu itu ibu merasa menjadi perempuan paling bahagia langsung berubah menjadi perempuan paling menderita. Kakek marah besar, tapi tak berlangsung lama karena merasa semua telah terlanjur dan tak bisa diulang. Kakek menjadi pendiam dan jatuh sakit. Tak lama berselang, kakek meninggal dunia. Ibu makin menyalahkan dirinya dan aku yang dikandungnya. Beruntung nenek bisa mengembalikan semangat ibu. Ibu yang sudah berniat menggugurkan kandungannya menarik kembali ide itu setelah diberi nasehat nenek. “Ini kan perbuatanmu. Berbuat zina saja sudah dosa dan sekarang mau menggugurkan lagi cucuku yang tak bersalah itu? Dosamu makin besar, Nak.”

Dan lahirlah aku, bayi perempuan mungil yang mata dan hidungnya mirip pencuri cinta ibuku. Ibu sering merasa kesal sendiri denganku yang terlalu banyak kemiripan dengan ayahku yang keberadaannya entah di mana. Tapi tiap ibu mengingat lagi kata-kata Nenek, bagaimana dia sudah membawaku selama sembilan bulan dalam perutnya dan melihat perkembanganku menjadi putri kecil yang menggemaskan, rasa kesal itu terganti dengan cinta.

Itulah cerita ibuku di usiaku kedua belas dan jawaban dari pertanyaan yang selalu kutanyakan, “dimana ayahku?”

“Cinta itu harus kita berikan pada orang tua kita, pada Tuhan kita dan pada pasangan hidup kelak. Cinta itu jangan membuat kita menjadi teman setan dalam sesaat. Karena kenikmatan yang sementara itu hanya akan merugikan kita. Ibu percaya, suatu hari nanti kamu akan jatuh cinta pada seorang laki-laki. Tapi ingatlah, sebelum menikah, jangan pernah kau berikan keperawananmu meski kau yakin laki-laki itu adalah cinta pertamamu atau cinta sejatimu. Jangan pernah kau ulangi kesalahan ibumu ini.”

Dan aku menjawab semua perkataan ibu, “Ibu, jangan khawatir. Ibu adalah cinta pertamaku.”

5 thoughts on “Virgin Love

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s