A Choice

Pertama  

‘Hahaha,’  

Tawaku lepas begitu saja setelah membaca rangkaian kalimat yang tertera di ponselku membuatku langsung dipandang beberapa orang di dalam kedai kopi. Kemudian aku tersenyum-senyum pada mereka yang memandang aneh.  

Lalu kamu tiba-tiba muncul di depan mataku. Kemudian kuberanikan diri untuk menyapamu. Mengembalikan pin nama yang terjatuh waktu kita bertemu di food court. Dan tak kusangka kita malah asyik membahas sejarah pin putih itu dibumbui  akting Robert Downey Jr.  

Aku ini sebenarnya bukan tipe pria yang mudah akrab dengan orang yang baru bertemu untuk pertama kali. Apalagi dengan seorang perempuan.  

Ini kebetulan?  
**

Kedua  

“Kok bisa sih tahu tentang pria brewok unyu di twitter waktu itu?”

 “Terlalu banyak hal yang akan susah kamu mengerti hanya dalam satu penjelasanku.”

“Ah, ribet!” 

Aku sendiri tak tahu bagaimana aku bisa menemukan tweet yang kamu ketik dan terselip di antara puluhan tweet di linimasaku. Dan aku juga masih heran bagaimana layar ponselku bisa berhenti bergerak di tweetmu saat aku iseng scroll timeline @infomalang.  

Dengan gayamu yang sedikit absurd tapi menarik seluruh perhatianku, kemudian kamu mulai bercerita tentang sahabatmu yang pernah mengalami hal yang serupa. Hanya dari sebuah tweet tentang ciri seseorang, sahabatmu bisa bertemu dengan seorang penggiat twitter dan anehnya ciri-cirinya sama seperti yang disebutkan di tweet. Layaknya cerita di negeri dongeng, tweet tadi yang menjadi awal kedekatan mereka. Kamu bercerita dengan ekspresi takjub, heran, bahagia, dan kau akhiri dengan senyum sambil bergumam, “gimana kalo hal kayak gitu terjadi sama aku?”.  

“Danu, kamu dengerin ceritaku gak sih? Dari tadi sibuk mainan hape aja! Huh!”  

Kalau boleh jujur, saat aku sibuk memencet-mencet layar ponsel, sebenarnya aku mengambil fotomu secara diam-diam dengan menggunakan aplikasi kamera tanpa suara ‘cekrik’.  

And yes, aku bisa mengabadikan senyum manismu.  

@DocNena: bulan sabitnya indah banget (June 10th, 2013 20:20)

@DanuPra: layaknya senyummu yang kini mampu kulihat setiap hari. Tak perlu lagi menunggu bulan depan. (June 10th, 2013 20:32)  


Tweet sent
**

Ketiga  

@DanuPra: bosennya jadi pegawai.. (June 23rd, 2013 22:30)  

Tweet sent.  

Reply from @NenaDoc: @DanuPra bosen mana sama dokter UGD? (June 23rd, 2013 22:32)  

Sekitar 15 menit kemudian, aku melihat ekspresi kaget di wajahmu dengan mulut menganga ketika melihatku sudah berdiri di depanmu.  

“Danu, kamu ngapain ada di sini?”  

“Pengen tahu aja gimana bosennya dokter UGD. Hehehe,”  

Aku tahu sepanjang aku ada di sebelahmu, sebenarnya kamu kikuk. Lirikan para perawat dan goda beberapa petugas administrasi yang membuatmu risih. Berulang kali kamu menyuruhku untuk menunggu di pojok ruangan. Tapi aku tak mau. Aku terus saja membuntutimu ke manapun kamu pergi. Tentu saja kecuali saat kamu memeriksa pasien.  

Entah perasaan apa yang hinggap di dadaku ketika aku melihat senyummu kembali merekah saat menempelkan stetoskop warna merah muda ke dada dan perut pasien usia lanjut yang mengeluhmuntah-muntah. Padahal jarum pendek jam dinding menunjuk angka 1 dan jarum pendeknya tepat di angka 12. Padahal baru beberapa menit yang lalu kamu duduk di sampingku sedang mengunyah roti yang kubawakan sambil berkata, ‘aku capek dan bosen sebenernya. Tapi kalo gak kerja seperti ini, mau dikemanakan ilmu yang sudah kudapat?’. Kurasa bukan terapi farmakologis yang jadi penyembuh pasien tadi, namun senyum dan ketulusan yang kau berikan.  

Kurogoh ponselku, kubidik dia yang masih saja tersenyum pada pasien itu.  

Cekrik.  

Add photo
 
@DanuPra: di dalam jiwa yang bosan ternyata masih ada ketulusan ketika menjalani sebuah passion (July 4th, 2013 23:17)  

Tweet sent
**

Keempat  

“Aku kurang suka ah sama film tadi. Monsternya terlalu khayal. Malah mirip banget ama Ultraman jaman kecil kita dulu.”  

“Kita?”

“Danuuu,”  

Satu kali cubitan mampir ke lenganku. Sakit. Tapi terasa ada rasa sayang yang diselipkan. Ah, Danu, kamu ngawur!
 
“Terus kenapa kamu tadi ngeiyain ajakanku nonton film ini?”  

“Karena aku tahu kamu pengen nonton film ini. Apaan tuh tweet yang isinya mbahas Pacific Rim, nge-RT tweet temen-temen kamu yang lain tentang film ini, sampe nge-RT semua link tentan kesuksesan film ini.”

“Ih, Nena kok ngertiin Danu banget sih?”  

Sekali lagi cubitan itu mampir ke lenganku. Kali ini lebih keras. Tapi tetap saja rasa sayang itu terasa dalam cubitan tadi.  

Gedubrak!  

“Huhuhuaaaaaa,”  

Kamu langsung setengah berlari menuju sumber suara yang melengking.  

“Adek? Kamu gak papa kan?”  

Aku memandang takjub pada adegan di depanku. Kamu berjongkok sembari memunguti permen warna-warni milik anak kecil yang sudah pasti bukan orang yang kau kenal. Setelah mengumpulkansemua permen tadi, kamu masih sempat-sempatnya menghapus air mata yang menetes di pipi bocah perempuan sekitar umur 5 tahun.  

“Udah ya, jangan nangis lagi ya. Ini permennya udah Kakak kumpulin lagi. Cup, cup, cup, jangan nangis.”  

Seorang perempuan yang menenteng banyak tas belanjaan datang tergopoh menuju arahmu dan anak kecil tadi.  

“Aduh, Nayla, kok bisa jatuh gitu sih. Liat, bajunya jadi kotor gitu kan? Udah Mama bilang kalo gak boleh lari-laridi sini. Trus gimana kamu bisa pergi dari Mama? Udah, jangan nangis lagi. Malu!”  

“Ehem.” Kamu mengeluarkan jurus berdehem agar tak disangka patung. Idemu boleh juga, Nena.  

“Oh, makasih ya Mbak udah nolong anak saya. Terus seharusnya gak usa repot mungutin permen tadi. Tapi sekali lagi terima kasih ya, Mbak.”

Kamu tak menanggapi ibu anak perempuan kecil tadi. Tatapanmu masih tertuju pada si bocah. Kemudian kamu mendekat pada anak tadi dan mengelus rambutnya sambil berkata, “lain kali jangan lari-lari dan jauh dari Mama ya?”. Tak lupa kau akhiri dengan senyummu yang sederhana nan menawan itu.  

Sepertinya aku sudah pernah mengalami adegan seperti ini. Rasanya aku sedang deja vu. Aku mencoba mengingat di mana aku pernah melihat adegan ini. Dan ketika aku bisa mengingatnya, jantungku serasa ingin berhenti. Aku tak percaya hal ini. Untung saja, kau segera mengagetkanku dan membuat jantungku kembali berdetak namun lebih cepat dari nilai normalnya.  

“Kenapa kayak ngelamun gitu, Dan?” kau lepaskan senyum mautmu itu. Senyum yang sama seperti yang kulihat tadi malam di mimpiku usai melakukan sholat istikharoh.
**

Kelima
 
“Sebenernya aku males kalo nanti ada acara kumpul keluarga pas Lebaran. Pasti bakal banyak pertanyaan ‘kapan nikah’. Bosen banget tiap tahun denger pertanyaan yang sama. Kenapa gaknanya ‘gimana kerjaan sekarang?’ atau ‘rencana ambil spesialisnya gimana?’. Huft.”  

“Iya sih aku juga gitu. Tapi cuekin aja kali kalo ada yang nanya begitu. Anggep aja mereka kepo ato malah peduli ama kehidupanmu.”  

“Tapi tetep aja rasanya gak enak tauk!”  

“Gini aja deh. Kalo ada yang nanya kayak gitu, kita janjian jawabnya yuk. Dijawab aja ‘Insya Allah tahun depan’. Nah, kan bakal diaminin sama yang nanya tuh. Jadi doa baik buat kita deh. Kalo taun depan ternyata belum nikah juga, terus ditanya lagi pas lebaran depan, jawab taun depan lagi aja. Ahahaha.”  

“Eh, bener juga kamu. Iya deh, ntar bakal jawab begitu kalo ditanya. Hahaha,”  

Seketika saat kita membicarakan tentang pertanyaan ‘kapan nikah?’ membuatku kembali mengatur kepingan potongan mimpi yang menghiasi tidurku dan begitu seringnya membaca artikel yang membahas tentang pernikahan. Benarkah ini jawaban yang diberikan Tuhan? Dan apakah iya perasaan yakin yang makin kuat padamu adalah jawaban di tiap doaku setelah sholat?  

Dan kemudian aku benar-benar merasa yakin setelah membaca tweet di layar ponselku.  

@DocNena: okesip! Tahun depan bakal nikah. Amin. (August 5th, 2013 21:43)

@DocNena: itu sih jawaban yang disiapin kalo ditanya kapan nikah (–,)7 (August 5th, 2013 21:44)

@DocNena: Sekaligus harapan sih. Hahaha. Cc: @jodohnyaNena (August 5th, 2013 21:46)

Reply tweet
@DanuPra: @NenaDoc amin🙂 (August 5th, 2013 21:50)

Tweet sent
**  

“Ma, aku mau minta ijin. Lebaran nanti aku ke Probolinggo ya, bikin kejutan ke Nena, kenalan sama keluarganya Nena sekaligus minta dia.”

“Nena yang dokter itu kan? Yang selalu kamu cerita ke Mama itu?”  

“Iya, Ma.”  

“Udah yakin?”  

“Insya Allah.”  

Karena aku sudah yakin, pertemuan pertama kita adalah takdir Tuhan, jumpa selanjutnya adalah kesempatan, dan bersamamu adalah pilihan.
***

Malang, 13 Agustus 2013 20:11
RSIA Puri Bunda

Cerita ini adalah lanjutan dari Be My Serendipity dan cerita sebelum The Biggest Mistake karya @noichil yang saat ini (mungkin) sedang berdoa dan berharap.

2 thoughts on “A Choice

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s