Thank You, God.

Bulan lalu aku sudah menuliskan #AlhamdulillahMoment di penghujung bulan Juli. Sebenarnya tidak ada niat khusus juga untuk bikin #AlhamdulillahMoment tiap akhir bulan. Tapi, malam ini aku merasa ingin berbagi perasaanku yang terasa naik turun, labil kayak ababil.

Something I wanna say before I start,

Alhamdulillah.

Sudahkah kalian bersyukur hari ini?
Apakah pernah kalian menghitung lebih banyak mana jumlah anugerah yang Tuhan berikan ketimbang cobaan yang Dia ujikan padamu?

I have to confess my sins here. Cause I know, writing will relieves my guilty feeling.

Maretha, seseorang yang sangat terobsesi untuk traveling.
Maretha, yang dulu berniat pulang dari PTT mau sekolah lagi ternyata niat itu pelan-pelan terkubur. Terpendam di balik keinginan melanglang buana yang menggebu.


Siapa yang gak suka gratisan? Siapa yang gak iri sama orang yang selalu dapet gratisan? Hahaha, seseorang sudah berhasil membuatku iri yang paling iri karena kredibilitasnya buat traveling gratisan tak diragukan lagi. Aku yakin beberapa dari yang baca pasti tahu siapa tersangkanya. *emmm, tolong itu tersangkanya gak usah ketawa dulu*. Maklum ya, saya lagi labil hari ini. Hasilnya, kelabilan ini jadi bahan curhat ke sahabat saya. 2 orang menanggapinya dengan jawaban yang berbeda.

Orang pertama berkata, “kenapa kamu harus iri terus jadi gila? Jangan! Jadikan keberuntungannya dia sebagai semangat kamu. Semangat biar kamu bisa jadi ‘besar’ seperti dia.”

Orang kedua berkata, “bukannya kamu kemarin bilang sendiri kalo orang yang kita lihat hidupnya enak, mana pernah kita tahu usahanya buat ngedapetin itu semua? Dan yakin kan kalo Tuhan gak pernah berbuat kesalahan?”

Tanggapan yang klasik. Very very very classic.

Sampai akhirnya, keirianku itu semua hilang. Berganti dengan syukur yang tak henti-hentinya aku ucap dalam hati.

Berniat dari blogwalking buat cari ide bikin cerpen dan kemudian terhenti di sebuah tumblr milik seorang dokter yang bertugas di Afrika, South Sudan. Blog yang kebanyakan menceritakan tentang pengalaman pribadinya selama berada di camp dan merawat pasien. Penyakit yang diderita pasien di sana kebanyakan malaria dan anak-anak gizi buruk pun mengingatkanku pada Alor, sebuah tempat di mana aku pernah mengabdi selama 1 tahun.

Aku tahu, sangat tahu, jauh dari keluarga dengan menanggung beban yang begitu besar karena harus menyelamatkan banyak nyawa bisa menjadi trigger seseorang merasa depresi dan hidupnya hampa. Tapi sang dokter ini malah selalu bisa mengambil hal-hal kecil dari pasiennya yang mampu membangkitkan senyumku sekaligus menamparku dengan halus. Entah itu tentang cinta dari sepasang suami istri muda yang berusia 15&14 tahun, lalu sebuah boneka tangan dengan warna-warni yang membawa keceriaan baru di bangsal anak, dan masih banyak lagi.

Dari situ aku menjadi sadar. Di tempat lain sana, masih banyak orang lain yang butuh pertolongan untuk menyambung nyawa. Masih butuh uang, butuh makan, butuh air bersih. Sementara aku di sini, insya Allah, sudah sangat amat berkecukupan. Bisa tidur di bawah atap yang nyaman, di atas kasur empuk sambil berselimut, bisa menyantap makanan enak, dan hampir bisa memenuhi semua kebutuhanku. Dan kemudian, bisa-bisanya sekarang aku merasa iri dengan seseorang yang mau bepergian dan mengatakan bahwa aku hampir gila karena aku juga butuh liburan. Salah besar. Aku salah. Harusnya aku lebih bersyukur, aku lebih beruntung dari pasien si dokter di South Sudan sana.

Alhamdulillah, God always opens my eyes with a wonderful way.

Sifat iri memang tak akan pernah bisa hilang dari hati manusia. Namun, dia akan bisa terkubur dalam-dalam bila kita banyak bersyukur. Dan sekarang, aku merasa sangat amat rindu dengan Alor, tempat yang fasilitas kesehatannya bisa dibilang minim, tempat di mana kebahagiaan besar akan lahir dari senyum ceria pasien yang berobat dan merasa dirinya telah sembuh setelah berobat padaku. Aku merasa di sana lah tempat aku merasakan damai hati. Walau tak bisa dipungkiri, tinggal bersama keluarga pasti terasa lebih hangat.

Berhenti iri dengan orang lain. Karena tak ada yang tahu bahwa sesungguhnya ada orang lain yang juga iri dengan kehidupanmu. Sayangnya mereka tak tahu bagaimana susahnya mendapat kesuksesan itu. Dan beruntungnya, ada beberapa yang mampu mengubah rasa iri tadi menjadi semangat untuk menjadi sukses.

Thank You, God, for all Your blessings.

Malang, 30 Agustus 2013.
Rumah.

2 thoughts on “Thank You, God.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s