Luka Tanpa Akhiran

Ada beberapa hal-atau mungkin hampir seluruh-dalam hidupku ingin kuhindari. Namun sayang, semua telah menjadi hal yang kusesali. Perihal tersebut sanggup kurangkum dengan satu kata. Kamu.

Luka ini memiliki awalan walau aku tak pernah tahu di mana akan kutemukan akhirannya.

Lengkung yang tergambar jelas dan tegas pada bibir di wajahmu adalah sebuah jebakan awal hingga aku harus melemah-bahkan aku rela memelas-di hadapanmu sembari berkata ‘aku jatuh cinta padamu’. Walau kalimat tadi hanya mampu kusimpan dalam hati.

Sebut saja awalan keduanya adalah aku seorang pengecut. Hanya mampu memujamu dari tiap rapalan doa yang kupanjatkan pada Tuhan dan berharap kau mampu membaca isi hatiku seolah kau paranormal terhebat di dunia ini. Sebuah reaksi yang kuharap tanpa sebuah aksi yang kugarap.
Dan awalan pertama, awalan kedua, menghantarkanku pada sebuah pencarian di mana titik akhir luka cinta tak berbalas ini akan kujumpai.

Kali ini aku telah menemukan akhiran luka itu. Yang semua menjadi penyesalan. Karena aku tahu hal ini bisa kuhindari bila aku tak bertemu awalan kedua.

Senja sore ini yang kunikmati sendiri seolah adalah jawaban konspirasi alam yang mengerti perasaanku. Merah untuk perih, oranye untuk rasa asam dan biru untuk kepedihan paling dalam. Inilah titik akhir lukaku. Bukan titik akhir di mana aku akan terbebas dari luka ini. Bukan.

Adalah titik akhir di mana lukaku menjadi luka yang menganga paling dalam, paling luas dari sekian lama aku mendapat luka.

Sebuah kertas tebal berwarna biru dengan berhias pita emas berisi inisial yang dicetak dengan huruf warna merah marun sudah cukup jelas menjadi akhiran dari pencarian cinta yang tak kunjung terbalas.

Kau serahkan undangan pernikahanmu tepat setelah kuberanikan diri mengungkapkan cinta yang bertahun-tahun mendiami hatiku dan menyatu dalam hidupku.

Kuminta kau untuk berlari dari hari yang kau nantikan itu. Kukatakan bahwa aku sangat menyayangimu. Jauh lebih lama dan aku dapat memastikan jauh lebih tulus dari laki-laki yang besok berjabat tangan dengan ayahmu mengucap akad nikah.

Kemudian aku tersadar dari lamunanku menatap kaki langit sore ini, aku menggali lubang lukaku begitu dalam. Dan aku tak tahu bagaimana aku bisa menggapai permukaan dan menutup lubang luka tadi. Karena bertemu dengan bahagia adalah mustahil sama seperti berharap mendapat cinta dari kau yang kucintai.

Selamat datang luka tanpa akhiran.
Selamat menabur pedih di atas hati yang rapuh karena tak pernah tahu arti dicintai.

Siang yang random,
demi revisi cerpen Luka Tanpa Akhiran.

7 thoughts on “Luka Tanpa Akhiran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s