Jatuh Cinta di Melaka

H- 1 bulan
“Aku mau liburan ke KL, Penang, terus Johor. Ada referensi menarik buat Penang?”
“Aku juga belum pernah ke sana sih. Kalo dari KL sih enak ke Melaka. Sama-sama World Heritage City dari UNESCO. Kotanya bagus juga, sehari di Melaka udah cukup”
*googling*
hasil googling: Jarak tempuh KL-Penang 5 jam. Penang-Johor Bahru 9 jam
*semaput*
“Kok jauh banget ya Penang-JB 9 jam? Bisa tua di jalan (>.<) Melaka-Johor berapa jam ya?”
“Kemarin sih Melaka-Singapur 4 jam. Jadi kira-kira 3 jam lah ke Johor. Dari KL juga cuma 2 jam.”
*googling Melaka*
hasil googling: betapa banyak blog yang membahas tentang indahnya Melaka, tentang damainya Melaka River, tentang riuhnya Jonker street, dan tentang lezatnya durian Melaka.
Seketika aku jatuh cinta. Jatuh cinta akan Melaka. Dan langsung mengubah itinerary dari KL menuju Melaka.

13 Oktober 2013
Dari Terminal Bersepadu Selatan yang keren banget mengalahkan kerennya bandara di Indonesia, bus Mayang Sari membawaku menuju Melaka Sentral hanya dalam 2 jam dengan harga tiketnya sekitar 11 RM. Murah!

Karena nanti aku bakal nginep di pinggir sungai Melaka, maka dari Melaka Sentral aku harus menuju Bangunan Merah. Nah, sesuai prinsip traveler yang nggendong Egi ama Geta ke mana-mana, tentu saja aku suka yang berbau murah. Bus Panorama 17 siap mengantarkanku menuju Bangunan Merah. Berikan 1.5 RM pada pak sopir, niscaya kita bakal diberi karcis dan dipersilahkan untuk duduk di tempat sesuai keinginan. Bus Panorama 17 ini merupakan bus favorit di Melaka Sentral karena dia bakal melewati Bangunan Merah yang merupakan spot penuh turis. Jadi jangan heran kalo naik bus ini, kita bisa mendengarkan berbagai bahasa yang aneh campur aduk dalam bus plus bau keringet campur parfum *begidik*

Wuah, Bangunan Merah rame. Maklum, hari itu adalah hari Minggu jadi banyak turis domestik maupun asing yang memadati seputaran Bangunan Merah buat berfoto. Aku yang masih mau ambil napas dulu sebelum nggendong si Egi ama Geta lagi pun memutuskan duduk sebentar dan berfoto di taman bunga dengan latar Gereja Saint Melaka. Dan rasanya aku masih gak percaya, apa yang kulihat di google pas googling tentang Melaka, kini benar-benar nyata di hadapanku. Kotanya yang teratur, damai, dan bikin hati tentram *ihik*

Siang itu, di pinggir Bangunan Merah yang juga dikenal dengan Red Square atau The Stadthyus tampak diramaikan oleh becak hias. Becak roda tiga yang dihias heboh ditambah speaker dijamin bakal memeriahkan harimu di Melaka. Lagu boyband Korea sampai lagunya Tegar sukses diputar berulang kali di tiap becak hias. Hahaha. Berasa gak di luar negeri aja nih gara-gara lagu yang diputerin. Buat naik becak ini, bakal dikenakan tarif 40 RM untuk 1 jam keliling Melaka. Mungkin sih bisa ditawar. Ya dasar aku aja yang pelit enggak mau keluar duit segitu. Mending buat makan. Ahahaha (>,<)

River Song Residence Hotel adalah jujugan buat bobok cantik di Melaka. Karena gak mau mengulangi tragedi muterin stesen Imbi dan Berjaya Times Square pas nyari hotel di Bukit Bintang, aku sudah ngirim email ke hotel ini buat minta ancer-ancernya. Berbekal petunjuk dari Mr. Tan yang berbunyi “just 5 minutes walking distance from the bus stop to River Song Residence . We are at the same road with Hard Rock Cafe.” kugendong lagi si Egi dan Geta kemudian melangkahkan kaki menuju Lorong Hang Jebat.

Tepat di sebelah Hard Rock Cafe, ada barisan manusia yang panjang menuju ke sebuah pintu. Itu apaan ya? Astaga! Ternyata orang-orang itu pada antri masuk restoran. Pengennya ikut ngantri tapi kok enggak ada manusia berjilbab yang lagi antri ato sudah makan di dalam. Udah ada yang ngingetin buat ati-ati makan di Melaka karena kebanyakan enggak halal. Jadi ya kulanjutkan untuk melangkah menuju hotel. Baru 5 langkah, mata tertuju pada sebuah bangunan kuno di pojok seberang restoran ini. Tulisan es cendol durian besar-besar terpampang. Slurp. Sebuah godaan yang nyata di siang hari dengan terik panas matahari menyengat dan perut sudah keroncongan. Tapi sekali lagi, halal gak sih makan es cendol durian? Mendadak parno dan akhirnya kembali menyusuri Lorong Hang Jebat buat ketemu kasur sekejap saja.

Rupanya Dewi Fortuna lagi enggak berkawan denganku. Udah jam 2 siang tapi ternyata kamar hotel belum siap. Alhasil cuma nitip si Egi dan kawan-kawannya yang lain terus pergi lagi buat cari makan siang. Dan kembali kulangkahkan kaki dengan perut yang ramai memainkan orkestra menuju tourism center. Di dalam tourism center, aku minta peta Melaka dan nanya makanan yang halal di seputaran sini.
Si kakak menjawab, “bila nak makan halal tak ade di Jonker street nih. Cuba kakak cari di Menara Taming Sari.”
“Jauh gak menuju Taming Sari?”
“only 5 minutes walking.”
Sebenernya ndak rela meninggalkan tourism center yang adem itu., tapi demi kesehatan umat bersama, aku harus menguatkan diri menuju Taming Sari. Baru sedikit saja melangkah, lagi-lagi mata ini harus disuguhi oleh rimbun pepohonan di sebelah sungai Melaka. Tampak kincir air yang besar dan juga bangunan mewah di seberang sana yang juga sudah kusaksikan di banyak travel blog. Ah, itu adalah hotel Casa del Rio yang terkenal itu. Iya, terkenal mahal. Sejenak menyusuri jalan setapak di pinggir sungai sambil berandai kapan bisa nginap di situ.

Ehem, hotelnya bagus, kincir airnya besar.

Ehem, hotelnya bagus, kincir airnya besar.

Ternyata berjalan menuju Taming Sari tidak jauh. Melewati taman kota yang sejuk juga sanggup mengobati rasa gerah akibat panasnya Melaka. Dan mata kembali diperlihatkan pada sebuah menara tinggi di mana nanti bila kita naik menara tadi, kita bisa melihat indahnya Melaka pada ketinggian 80 meter. Menara Taming Sari, first revolving ‘gyro tower’ in Malaysia. Dengan membayar 20 RM untuk dewasa, maka selama 7 menit kita akan dibawa menikmati panorama indah dan keunikan tempat bersejarah di Melaka. Pasti keren kan? Sensasinya pasti juga mirip-mirip di Restaurant 360 di KL Tower.

Fasih bener ya Retha ngejelasin asyiknya naik Menara Taming Sari. Naik beneran? Ya enggaklah. Nih nyontek dari brosurnya. Bahahaha. Kalo Retha mah ya langsung ngacir ke medan selera. Maemnya langsung ambil sendiri kek model prasmanan. Ada sebentuk ikan panjang dengan bumbu merah kuambil. Rasanya enak. Dan setelah browsing, ternyata itu ikan pari bumbu asam pedas khasnya Melaka. Wah, beruntung juga gak mamam chicken rice ball tapi bisa mamam makanan khas lainnya. Perutku seketika senang sekali :”>

Di depan Menara Taming Sari ada sebuah kapal besar macam terdampar di tengah kota. Kulihat di peta, ternyata itu Maritime Museum. Bentar, ternyata masuk museum harus bayar. Hahaha. Ya udah foto-foto aja lah depan museumnya. *pelit apa medit sih?* Memang rata-rata museum di Melaka sini mewajibkan kita untuk bayar tiket masuk. Ya kalo emang seneng banget sama yang namanya museum, gak usah ragu buat merogoh kocek lagi.

Kapalnya besar. Woaah.

Kapalnya besar. Woaah.

Alhamdulillah pas sampe di hotel, kamarnya udah ready jadi langsung nemplok di kasur. Enggak sempat moto2 kamarnya. Wahaha. Kira-kira 1 jam buat bersihin badan ama ngilangin sedikit pegel di kaki, selanjutnya jalan lagi. Mau menikmati sore harinya Melaka. Ini ya hotel di pinggir sungai Melaka beneran romantiiiis gitu. Sesekali cruise yang mengangkut penumpang buat keliling sungai Melaka lewat. Aaaak, beneran jatuh cinta sama kedamaian di pinggir sungai Melaka. Suasananya itu damai, kotanya juga bersih, bawaannya tentram dan bikin ati adem.

duile, cakep bener pinggir sungai nih..

duile, cakep bener pinggir sungai nih..

Jonker Street yang tadi siang masih dilalui kendaraan kini sudah berubah menjadi pasar dadakan. Nah, pasar yang seperti ini cuma bisa dijumpai di tiap weekend saja. Maka beruntunglah saya yang datang saat weekend. Dan di sini bakal banyak pedagang suvenir, kudapan, sampai obat-obat tradisional. Nah, kalo Retha yang bakal dicari ya kudapan alias snack khas Melaka.

Welcome to Jonker Walk ^^

Welcome to Jonker Walk ^^

Oke, snack pertama yang berhasil masuk perut adalah potato twist. Satu kentang diiris sedemikian rupa, ditusuk ke tusukan yang panjang, terus irisan tadi dilebarin dan berubahlah jadi potato twist. Lalu digoreng dan diberi bumbu sesuai permintaan pembeli. Satu tusuk 3 RM, tapi kalo beli dua 5 RM. Buat rasa sih ya kentang goreng gitu, cuma enak kalo masih anget karena masih crunchy. Kalo udah adem ya melempem. Recommended buat yang rasa original aja, cukup dikasih bumbu garem udah maknyus. Hehehe.

Snack kedua, fried quil egg. Awalnya tertarik liat proses pembuatannya, terus liat yang udah beli pada makan nih telur puyuh, kok jadi tertarik ya? Nah, terus mikir, halal gak nih? Soalnya di telur puyuhnya ditambahi sosis. Kemudian, kuberanikan diri bertanya pada sang penjual. “Is that halal?” Dan penjual dengan ramah menjawab, “Yes, ini halal. Minyak kami pakai maggie, sosis juga sapi, tidak ade babi di sini.” Dan saya langsung bayar 5 RM untuk 2 tusuk (kalo gak salah sih, lupak. Hehe). Mmm, yummy!

babang jualan telur puyuh

babang jualan telur puyuh

Snack ketiga, inilah yang ditunggu-tunggu. DURIAN PUFF. Kedainya punya nama Taste Better. Persis ada di samping gapura Taman Warisan Jonker yang punya patung bapaknya body builder di Malaysia. Ati-ati, belinya antri. Nanti bakal ada 2 pilihan rasa, original atau yoghurt. Buat masalah harga, (semoga saja benar) 3 puff 5RM, 7 puff 10 RM, 15 puff 20 RM. Dan aku milih yang isi 7 puff rasa original. Penampakannya sih kayak kue sus isi vla gitu. Biasa banget. Tapi ya, begitu dimasukin ke mulut dalam sekali lep, alamaaaak, CEPROT! Sensasi krim durian yang adem itu langsung meledak memenuhi rongga mulut. Dan jangan marah kalo krimnya bakal keluar-keluar juga karena isinya banyak banget. Makanya kalo mau makan puff, sedot dulu krimnya dari atas, sekiranya krim udah agak berkurang baru deh dimasukin dalam satu lahap. Kalo digigit jadi dua, ntar krimnya muncrat ke mana-mana. Mataku bener-bener berbinar-binar waktu durian memenuhi mulutku. Yang suka durian, pastikan buat beli durian puff ini di Taste Better yaaa ^^

Taste Better..

Taste Better..

surga kecil dalam satu gigitan..

surga kecil dalam satu gigitan..

Snack keempat, minuman dingin Ice Herbal Tea. Dijualnya di pinggir jalan gitu, ndak di kedai khusus. Ada banyak pilihan juga buat minumannya. Rasanya seger enak meskipun ya kerasa herbalnya. Cocok lah buat tubuh yang energinya mulai kurang ini. Segelas harganya 3,5 RM.

Lama-lama sambil ngunyah, aku udah sampe di ujung jalan Jonker. Dan dasarnya orang Jawa yang kalo belum makan nasi berarti belum makan, maka aku dan kakak memutuskan cari nasi. Etapi, ini kan masih di Jonker yang mana susah cari makanan halal. Jalan, jalan, jalan, ketemu semacam pasar senggol khusus makanan berat aja. Itu ya aromanya menggoda, tampilannya menggugah selera, tapi aku takut itu enggak halal. Aaaak! Sampai kemudian aku berdiri di depan gerobak dengan seorang ibu sedang asyik menggoreng di wajan yang besar banget. Aku melihat satu karyawannya berwajah Melayu. Wah, harusnya sih ini halal ya. Eh, beneran ternyata. Di gerobaknya ditempelin gede tulisan 100% halal. Alhamdulillaaaah. Sebenernya gak ada menu nasi sih, haha, tapi daripada susah cari yang halal ya mending pesen ini aja. Nama pasti menunya aku lupa, tapi yang pasti 2 menu yang dijual adalah fried carrot cake (5RM) dan oyster goreng (6RM) kupesan dan porsinya banyaaak. Carrot cake di sini mirip tteotbokki Korea gitu. Kalo oysternya digoreng campur sama telur orak-arik dan sayur-sayur. Rasanya sih malah menuju hambar ya, kurang kerasa sedapnya. Yang penting halal. Ahahaha.

Perut kenyang, hati senang. Kembali kunikmati malam di pinggir Sungai Melaka hingga mata mengantuk dan kuhabiskan malam di atas kasur yang empuk. Aku makin jatuh cinta pada Melaka ini :”>

Meriahnya becak hias di malam hari..

Meriahnya becak hias di malam hari..

Pagi hari di hari Senin jam 8, belum ada tanda-tanda keramaian di Lorong Hang Jebat. Mobil juga lalu lalang tak terlalu banyak. Namun, petugas kebersihan sudah menyapu jalanan, taman juga disiram. Ya pantesan ini kota bersih banget. Rajin gitu yang bersihin. Hihihi.

image

good morning from Melaka!

Tujuan pagi ini adalah kawasan Bangunan Merah, Porta de Santiago buat poto-poto alay dan Bukit St. Paul. Olahraga pagi menaiki bukit untuk menuju pada bangunan tua gereja di atas bukit. Hosh, hosh, hosh. Tapi begitu sampai di atas, angin bakal berhembus kencang, gerah yang terasa bakal terhapus seketika, dan lelah hati akan terganti dengan pemandangan luar biasa dari atas. Damai dan cantik. Di sini ada yang foto pre wedding juga lho, hihihi.

Ndak papa ya foto di Melaka dulu. Ke Belandanya nyusul.

Ndak papa ya foto di Melaka dulu. Ke Belandanya nyusul.

Air Mancur Victoria

Air Mancur Victoria

the beautiful red square

the beautiful red square

Gereja St. Paul

Gereja St. Paul

Inside St. Paul Church

Inside St. Paul Church

Puas berkeliling di dalam gereja yang di dalamnya ada kuburan dilindungi teralis besi, aku melangkahkan kaki menuju Lao Qian Ice Cafe yang jual es cendol durian. Hahaha. Akhirnya berani masuk ke sini juga, gak mungkin gak halal kan? Dengan 4,8 RM (kalo bener :p) sebuah es cendol durian dengan wadah yang unik dan lucu siap disantap. Isinya ada es serut, cendol ijo, duren, santan, gula merah. Rasanya sih kurang manis kalo kataku, cenderung gurih karena santan dan rasa durennya kurang nampol.

es cendol durian. Wanna some?

es cendol durian. Wanna some?

Tiba-tiba sudah jam 11 aja, waktunya packing, waktunya check out. Berpisah dengan kota ini rasanya berat. Apalagi aku belum sempat mengelilingi semua bangunan di Jonker Street. Juga belum ke mall di Daratan Pahlawan, belum nyobain 1000 layers cake. Apakah ini pertanda harus balik lagi ke Melaka? Hihihi.

Dan sampai di sinilah perjalananku di Melaka, 24 jam yang sangat menyenangkan. Jatuh cinta pada pandangan pertama telah kualami di Melaka. Kembali ke Melaka Sentral untuk mengejar bus menuju Johor Bahru. Menunggu bus Panorama 17 dan bayar 2 RM (lebih mahal karena jalannya muter-muter dulu) untuk menuju ke Melaka Sentral.

Aku sudah berulang kali jatuh cinta dengan Malaka, kapan giliranmu?🙂

7 thoughts on “Jatuh Cinta di Melaka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s