A Traveler’s Dream

11.50, LRT Laluan Kelana Jaya
LRT ini bergerak begitu cepat. Beberapa kali ketika kereta berbelok, aku hampir jatuh dan menabrak laki-laki di sebelahku. Kupererat genggamanku pada tiang besi berharap tubuh kecilku bisa lebih seimbang.  

11.53, (masih) LRT Laluan Kelana Jaya
Stesen berikutnya KLCC. Next station KLCC.
Aku bersiap turun. Laki-laki di sebelahku juga nampak bersiap. Tak sengaja mata kami beradu pandang. Dia tersenyum. Aku salah tingkah.

12.03, depan Petronas Twin Tower
So, you wanna take picture here?

Ada suara laki-laki tepat di telinga kiriku. Suaranya pelan tapi hampir membuat ponsel dalam genggamanku terlempar ke mukanya. Seorang laki-laki yang memanggul backpack Deuter warna biru dengan mengenakan kaos bertuliskan I am A Tourist dipadukan celana pendek dengan mengenakan sneaker. Laki-laki yang tadi ada di LRT bersamaku, yang berulang kali kutabrak dalam LRT dan sempat menyunggingkan senyumnya untukku.

Sorry if I’m suprised you, my name is Hans.

Kujabat tangannya yang terulur di hadapanku.

“Erika.”

Can I help to take your picture?

Kuanggukan kepalaku cepat, kusodorkan kamera mirrorlessku dan cekrik, satu foto dengan latar menara kembar sudah tersimpan di kamera.  

12.30, Nandos Restaurant
Is this your third time come here?”  

“Yes.”  

“Why are you coming here again?”  

“Wanna watch MotoGP tomorrow. Actually I had plan to visit Merdeka Square, but I saw a pretty girl in KL Sentral who bought LRT ticket to KLCC. I followed her and hope can acquaint. And I’m with her now, hehe,” dia menggaruk kepalanya. Aku yakin bukan karena gatal tapi karena dia malu.  

Ini kali pertama aku datang ke Kuala Lumpur. Hans sudah ketiga kalinya. Kami sama-sama datang sendirian. Sebutlah kami solo traveler yang kemudian dipertemukan takdir. Aku bukan tipe perempuan yang mudah bergaul dengan orang lain, sering mendadak mengubah itinerary dan jarang memesan hostel sebelum berangkat ke tujuan. Itulah mengapa aku lebih menyukai berlibur sendirian karena aku bisa mengatur sesuai kemauan.

Tapi ada yang berbeda dari Hans. Dia seorang bule asal Australia tapi bisa dengan mudah mengajakku makan siang di Nandos yang katanya terkenal dengan chicken piri yang pedas dan bisa membuatku tertawa saat mendengar cerita bahwa tadi pagi dia salah mengambil jalur kereta padahal sudah berulang kali pergi ke Kuala Lumpur. Dan entah mengapa aku begitu tergoda, selain pada paha ayam yang montok dibalur bumbu pedas di atas piringku, pada Hans yang begitu lahap menyantap ayam dan nasi mediteraniannya. Ada sesuatu yang membuatku merasa begitu dekat walau pertama kali bertemu dengan Hans.  

“What if tonight we go to KLCC park and see the dancing fountain? That show is so great.”  
Senyumnya melelehkan hatiku. Dan aku mengangguk pasrah pada ajakannya.  

“Erika!”  

Aku terkaget dan menoleh pada sumber suara. Kartika.

Lho? Kenapa ada Kartika di sini?  

Kuangkat tanganku dan kulihat angka 13.30 pada jam digitalku. Aku malah ada di sofa kamar apartemenku, bukan di Nandos. Dan tak ada sosok bule di sini.  

“Makanya jangan tidur mulu. Bangun gih. Siap-siap buat packing kek, flight lo ntar malem dodol! ”  

Astaga, jadi aku belum di KL dan semua ini cuma mimpi? Hiks.

-Cerita ini diikutsertakan pada Giveaway Cerita Perjalanan @mandewi-

8 thoughts on “A Traveler’s Dream

  1. kenapa nggak nuls versi aslinya kita bolak balik ke nandos yg masih tutup…sehingga tercetus ide gila berkenalan dgn warga KL yg gak jelas juntrung nya…yg hanya kenalan lewat WA…kayak nya lebih nendang wkwkwwkkkk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s