Surat untuk Ibu

Assalamualaikum, ibu.

Seharusnya, surat ini kutujukan pada sebuah koran nasional yang mengadakan lomba menulis surat untuk ibu. Deadline pengiriman tanggal 14 Desember 2013, semalam. Aku sudah membayangkan apa isi surat itu yakni ucapan terima kasih untuk merestui segala keputusanku, untuk doa yang tak henti kau panjatkan pada Allah, dan untuk kepercayaanmu bahwa ada yang membahagiakan akhir tahun ini. Namun, semua rencana itu buyar seiring dengan diterimanya satu surat elektronik yang masuk dalam kotak emailku. It broke anything and everything in my heart. Made my saturday nite become terrible. Successfully. Thank you to someone who sent that email.

Aku bukanlah seorang anak yang sangat dekat dengan ibu. Dekat dalam arti menceritakan semua masalahku dengan beliau. Kalo teman jalan ato belanja ato makan enak, I’m sure you’re my best partner ever. Namun, keadaan itu akhirnya berubah dalam 3 bulan terakhir ini. Aku mudah bercerita segalanya denganmu.

Mungkin tak perlu kuperjelas hal apa yang sering kuceritakan akhir-akhir ini. Beberapa bulan yang lalu, aku rutin melakukan sholat istikharoh karena aku sedang bimbang dengan pilihanku. Tak ada mimpi yang kunjung kudapat di tiap tidurku, namun perlahan Allah memberi jawaban lewat berita di televisi atau media cetak maupun online. Hingga akhirnya, aku menemukan sendiri jawaban yang sangat membuatku yakin akan pertanyaan yang selalu kuutarakan pada Allah selepas sholat istikharoh. Jawaban itu berasal dari ibuku.

Setelah aku yakin dengan petunjuk yang Allah berikan dengan ridho yang ibu beri padaku, aku menjalani hari-hari tanpa rasa curiga, tanpa rasa ragu. Everything is smooth and perfect, I thought. Until I found myself crying last night while read the email from somebody to my mom. I feel like I am failed daughter to her. I made her dreaming a lot about my next plan and then I screw up that plan and made her upset (actually the one who sent that email initiated hurt my mom, hih!)

Dan ibu, maaf untuk segalanya. Maaf untuk semuanya. Apa yang sudah sama-sama kita impikan tentang masa depanku ternyata hancur. Mungkin masih ada harapan, secerca harapan untuk bisa menyelamatkan impian itu. Dan aku pasti berusaha untuk menyelamatkan itu sama seperti yang tertulis pada balasan email dariku untuknya yang sudah kubacakan tadi pagi. I’ll take all of the risks to save that. I will. Aku memohon restumu untuk melakukannya. Doakan aku untuk terus bisa bertahan dari cobaan ini. Jika memang hasilnya tetap tak seperti yang kita harapkan, maaf, aku memang belum bisa menjadi putri kecil yang sanggup membahagiakanmu saat ini.

Terima kasih ibu untuk elusanmu di punggungku saat aku menulis surat ini, untuk kata-kata “sudah enggak papa, gak usah nangis lagi.” That made my tears comin out more, more, and more aggressive. Huhuhu. Thank you and sorry, ibu.

From me,

Your daughter who believe a happy ending for this problem,
Maretha

2 thoughts on “Surat untuk Ibu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s