Cinta tapi Beda

Dua hari ini nonton 2 film berbeda tapi sama-sama punya satu tema. Cinta. Lebih tepatnya lagi cinta beda budaya. Begitu banyak pesan yang dipetik dari dua film ini dan setiap pesan itu menggelitik hatiku sendiri.

Film yang pertama, Chennai Express, dibintangi aktor kenamaan Bollywood, Shah Rukh Khan dan perempuan cantik Deepika Padukone.
image

Menceritakan Rahul (SRK) asal Mumbai (India Utara) yang naik kereta api dengan maksud pergi ke Goa untuk menaburkan abu mendiang kakenya terus ketemu Meenama (DP) asal Komban (India Selatan) yang dikawal 4 preman sangar.

Awalnya aku sendiri gak tau kenapa Rahul bilang kalo si cewek gak ngerti bahasanya, ternyata baru ngeh karena mereka berasal dari tempat yang berbeda jadi bahasa yang mereka pakai lain. Walau ternyata Meenama mengerti bahasa Hindi, bahasa India Utara, karena dia sering lari dari desanya karena ayahnya menjodohkan dia pada seorang laki-laki preman asal Komban. Aku gak ngeh juga kenapa tiba-tiba Rahul terlibat pada masalah Meena dan 4 preman yang mengawal Meena hingga akhirnya Rahul malah dijadikan alasan Meena kenapa dia lari dari Komban, karena Meena ingin menikah dengan Rahul. Rahul yang gak ngerti bahasa Tamil, bahasa India Selatan, cuma bisa manggut-manggut selama Meena berbicara pada ayahnya kemudian menatapnya. Tanggabali, laki-laki yang dijodohkan dengan Meena, tak senang dengan kehadiran Rahul. Alih-alih mengajak Rahul berduel, siapa yang menang, dialah yang berhak mengawini Meena. Dasar Rahul banyak akal, dia kabur dari Komban bersama Meena ke desa lain, membohongi masyarakat desa itu sebagai pasangan suami istri baru dan dari situlah benih cinta mereka berdua muncul. Tanggabali berhasil mengetahui keberadaan Rahul dan Meena, mereka berdua berhasil kabur lagi hingga akhirnya pergi menaburkan abu kakek Rahul di tempat yang diamanahi kakeknya, bukan di Goa. Selepas menabur abu, Rahul berencana pergi ke Mumbai dan Meena pergi ke tempat sahabatnya di India Utara, maksudnya kabur lagi, eh tapi, ternyata si Rahul malah nganter Meena ke Komban dan terang-terangan bilang ke ayah Meena kalo dia cinta Meena meskipun bahasa ibu mereka berbeda. Akhirnya duel lah si Rahul sama Tanggabali dan you know lah siapa yang bakal menang. Hehehe.

1.635 languages in the world, but there is one the most important. it is love

Mau beda bahasa meskipun sama-sama satu negara, ditentang karena adat dan budaya yang beda sama ortu, kalo udah cinta dan mau berjuang meyakinkan ortu, pasti akhirnya bisa bersama kok🙂

Film kedua, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.

image

Siapa sih yang gak ngomongin film Indonesia yang lagi hits bener. Semua orang di Twitter sibuk ngobrolin film yang skripnya dibuat selama 5 tahun. Diadaptasi dari sebuah novel karya Buya Hamka juga menambah nilai jual dari film ini. Maretha anak mainstream, makanya nonton film ini dong.
Berkisah tentang Zainuddin (Herjunot Ali) asal Makassar yang merantau ke Batipuh, daerah Minang, kemudian jatuh cinta dengan Hayati (Pevita Pearce), gadis bunga desa. Karena Zainuddin dibilang tak punya suku, pekerjaan tak pasti, maka paman Hayati tak merestui hubungan mereka dan malah menerima lamaran dari Azis (Reza Rahadian) yang merupakan anak dari seorang kaya raya dan terpandang dari Padang Panjang. Zainuddin sampe sakit dan depresi pas tahu Hayati nolak lamarannya dan lebih milih Azis. Sebenernya Hayati juga nerima Azis bukan karena gelap mata sama harta, tapi dia menjaga perasaan paman dan bibi yang sudah merawat dia. Jalan berliku, tapi mungkin itu yang namanya jodoh. Mau seribet apapun, Zainuddin ketemu lagi sama Hayati. Si Azis yang bangkrut dan dipecat dari kerjaannya malah menceraikan Hayati dan menyerahkan Hayati pada Zainuddin yang sudah kaya raya karena berhasil jadi penulis yang menulis kisah cintanya yang pahit. Zainuddin ngerasa gak bener, katanya pemuda pantang dapat sisa, akhirnya nyuruh Hayati balik ke Padang naik kapal Van Der Wijck walau sebenarnya dia itu pengin banget barengan sama Hayati. Akhirnya kapal tenggelam, si Hayati ditemukan selamat dengan luka yang parah, Zainuddin masih berkesempatan ketemu Hayati dan mengungkapkan segala hasratnya. Eh, ternyata takdir berkata lain. Hayati meninggal dan Zainuddin hidup sendiri mengenang Hayati di sisa hidupnya.
Padahal sama-sama dari Indonesia, tapi emang settingnya belum merdeka, jadinya masih terkotak-kotak banget. Beda asal saja sudah jadi masalah yang besar dalam menjalin sebuah cinta. Eits, kenapa bilang itu belum merdeka? Jaman sekarang udah merdeka aja masih ada yang seperti itu kok. Kalo gak dari satu suku gak bakal direstuin, juga banyak kejadian. Nah, di film ini pesannya kalo cinta ditentang jangan bikin itu mematahkan semangat. Kalo janji yang diucap kekasih dipatahkan sendiri sama dia, jadikan itu sebagai kisah tulisanmu, ahahaha. Mau ditentang model apapun, akhirnya dijodohkan sama orang lain, sebenarnya hati kecilnya bakal nyimpan cinta abadi buat seseorang yang ditentang itu.

Dari dua film tadi, kesamaannya cinta beda budaya, beda adat walau masih satu negara yang ditentang orang tua. Perbedaannya, film pertama punya happy ending, film kedua punya sad ending. Namun, dua film itu sama-sama mengajarkan dan membuat aku kagum pada tiap pasangan beda adat, beda budaya yang bisa membuat cinta mereka bersatu. Walau ditentang orang tua sekali pun, mereka mau berjuang meyakinkan orang tuanya bahwa ini adalah pilihan mereka untuk bahagia. Aku yakin, semua orang tua memang inginkan yang terbaik untuk putra-putrinya, walau di awal mereka tak yakin pada pasangan yang dipilih anaknya tapi selama anaknya bisa meyakinkan bahwa pasangan inilah yang membuat mereka bahagia, aku yakin semua orang tua akan menyetujui.

Kalo nyatanya cinta beda adat dan budaya ini tak direstui, sebenarnya anaknya jadi korban. Makan perasaan, makan ati. Bikin anaknya putus asa, putus semangat. Orang tuanya tega kah bikin anaknya seperti itu?

Cinta tapi beda budaya dan adat ini membutuhkan banyak pengorbanan, harus mau mengalah satu sama lain, perlu kerjasama dengan banyak pihak. Cinta yang diperjuangkan bersama walau akhirnya tetap pahit pasti akan jauh lebih terkenang. Makanya aku salut buat semua pasangan beda adat bahkan beda negara yang bisa meyakinkan masing-masing orang tua bahwa mereka bisa hidup bahagia walau jalannya tak pernah mulus. Dan akhirnya mereka membuktikan kebahagiaan mereka.

Mari semua, sama-sama berjuang pada cinta yang diyakini dalam hatinya. Karena sesungguhnya cinta yang bahagia adalah ketika kau tahu dia berjuang sama kerasnya atau lebih dari usaha yang kau lakukan agar bisa hidup bersama.

2 thoughts on “Cinta tapi Beda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s