Kuala Lumpur, Satu Kota Banyak Cerita

30 Mei 2013, Malang-Sidoarjo

Menembus dingin dan gelapnya Malang jam 3 dini hari, sebuah mobil melaju kencang menuju Bandara Internasional Juanda. 5 orang dewasa, 2 laki-laki dan 3 perempuan, satu laki-laki jadi sopir, satu perempuan jadi teman sopir, satu laki-laki dan perempuan bertindak sebagai orang tua dari sopir dan 2 penumpang yang lain, sementara satu perempuan sisanya cuma cengar-cengir. Sudah tahu siapa kan para penumpang tadi? Bagus kalo tahu. Kalo gak tahu, tinggalkan pertanyaan Anda pada kolom komentar di bawah postingan ini.

“Ayo, semuanya sudah kumpul kan? Sebentar lagi kita boarding. Pastikan nanti duduknya sesuai seat ya.” Seorang yang mari kita sebut tur leader mengarahkan para peserta tur yang rata-rata berpasangan dan punya anak. Hanya satu saja yang masih perawan.
Kupastikan lagi nomer tempat dudukku yang tertera di tiket boarding. Yes, dekat jendela.

Aku tersenyum pada perempuan yang bertindak sebagai orang tua di dalam mobil tadi. “Kita pergi ke luar negeri lagi, buk! Hihihi.” Senyumku lalu berganti dengan cengar-cengir.
Kemudian laki-laki yang juga bertindak sebagai orang tua berkata, “Ati-ati ilang lho paspore.” Dan aku hanya menjawab dalam hati, “oke, pak!”

Maretha dan ibuk bapaknya mau pergi ke Kuala Lumpur. Gratis😀
Ke mana perginya sopir dan teman sopir alias mbak masku? Pulang ke Malang sembari berharap orang tua dan adiknya kembali sambil bawa oleh-oleh.

image

30 Mei 2013, Kuala Lumpur

Sampai juga di Kuala Lumpur. Tepatnya di bandara LCCT. Alhamdulillah. Subhanallah. Perjalanan 2,5 jam di udara menyenangkan, petugas imigrasi juga gak menanyakan apapun perihal kedatanganku kemari, dijemput bas persiaran (alias bus pariwisata) menuju pusat kota Kuala Lumpur. Ah, sungguh menggembirakan.

Perjalanan LCCT-Kuala Lumpur memakan waktu sekitar 45 menit. Tak ada yang bisa dinikmati di hampir separuh perjalanan karena kanan kiri kulihat saja banyak kelapa sawit, i, it~

Namun saat Kakak (perempuan Malaysia) dalam bas persiaran mengatakan, “sekarang kita sampai di Bukit Bintang. Bapak dan ibu beruntung sekali bisa menginap di sini. Karena hotel Bapak Ibu dikelilingi banyak mall. Jadi ibu-ibu nanti bisa shopping di sini. Dan karena bas ini tak bisa masuk ke depan lobi hotel, kita turun sahaja di sini. Nanti baggage bapak ibu supaya diambil oleh bellboy,” mata yang tadi sepet tiba-tiba melek jreng.

Aku terkagum saat turun di sebuah halte. Di tengah jalan ada rel kereta api yang menjulang tinggi, mari kita sebut jalannya monorail. Sementara di seberang halte tampak bangunan besar bernama Sungei Wang. Lebih kagum lagi saat tahu nama hotel tempat kami menginap, Hotel Royal Kuala Lumpur. Kyaa~

image

Karena belum bisa check in hotel, maka rombongan tur ini diajak keliling Kuala Lumpur dulu. Destinasi pertama kami adalah KL Tower. Hal yang ditawarkan dalam KL Tower ini cukup beragam, kita bisa melihat Kuala Lumpur skyline dari observation deck (276 m), tempat simulasi F1, animal zone, dan ada sebuah restoran namanya Atmosphere 360° yang bisa berputar 360° di ketinggian 282 m sehingga kita bisa menyaksikan landscape dari kota Kuala Lumpur ini. Menariknya konsep restoran ini adalah all you can eat. Dan sudah diwanti-wanti sama Kak Maria, tur leader asli Malaysia yang jago bahasa Indonesia, kalo kami harus mengingat nomer meja kami. Karena beda yang dilihat di luar bisa bikin kami bingung di mana meja kami. Hahaha.

image

Puas memenuhi lambung dan usus, puas memanjakan mata dengan pemandangan Kuala Lumpur, kami menuju Istana Negara. Aw, panas banget di sini. Istana Negara ini gak dibuka untuk umum, hanya pada saat-saat tertentu akan dibuka. Gak terlalu banyak tempat yang bisa difoto karena hanya bisa memandang dari luar pagar dan gak kuat sama teriknya matahari KL, rombongan kemudian melaju pada Tugu Negara.

image

image

Ternyata capek juga ya seharian keliling begitu dan panasnya ini ngingetin sama Alor deh. Sore balik ke hotel dan malamnya kami menuju Jalan Alor, pusat kuliner dekat Bukit Bintang yang buka saat malam hari, bukan Alor yang ada di NTT. Menyajikan begitu banyak kuliner tapi hati-hati ya, banyak yang gak halal di sini🙂 Dan di jalanan ini, ada penjual roasted chesnut yang mana chesnutnya enak banget bikin emak ane ketagihan dan menyuruhku bawa oleh-oleh chesnut panggang ini di next tripku di Malaysia (coming soon).

31 Mei 2013, (masih) Kuala Lumpur

Karena judulnya tur ini adalah medical check-up dan baik aku maupun bapak ibu gak ada yang ikut MCU, kami bertiga memisahkan diri dari rombongan yang hari ini ke rumah sakit. Jam 6 bangun, eh gila, masih gelap. Bahkan baru aja subuh. Jam 8 buka korden jendela, ya ampun, masih kayak jam 6 di Malang. Sambil malas-malasan bersiap diri, jam 9 pagi matahari sudah menyapa dengan agak genit. Kami bertiga keluar hotel buat cari sarapan. Dari hasil berjalan kaki ke belakang hotel, nemu macam pujasera gitu. Kelihatannya kotor sih, agak becek bekas hujan semalam. Tapi perut sudah pasti minta diisi. Gak peduli dengan begituan lagi, yang penting halal. Ini pertama kali makan nasi lemak di Malaysia. Macam nasi uduk begitu ya, tapi buatku terlalu gurih, santannya terlalu kerasa, jadi ya kurang cocok aja.

“Makcik, sudah. Nak bayar.”
Si makcik penjual makanan menyebutkan sejumlah angka habisnya makan kami bertiga. Kuserahkan beberapa lembar uang dan kutunggu kembalian dari si makcik. Rupanya masih terlalu pagi, si makcik pun mencari uang tukar ke penjual di sebelahnya.

“Eh, ijol duit cilik ono ra? Arep nyusuki.”

HAH? Telinga aku masih oke kok. Pendengaranku gak salah.

“Lho? Panjenengan saking pundi? Tiyang Jawi nggih?”
“Sampeyan wong Jowo ta Mbak? Kulo soko Bojonegoro.”
“Wah, kulo saking Malang.”

“Nggih sami-sami Jawa Timur. Berlibur teng mriki?”

“Nggih. Liburan.”
Si makcik tadi menyerahkan recehan uang kembalian dan tersenyum.

“Nggih sampun. Maturnuwun.”

Aku tersenyum dan merasa tak percaya kalo yang jual makanan di tempat situ orang Jawa. Rasanya senang bisa ketemu orang satu bangsa di negeri orang

Karena melihat jadwal tur di esok hari gak ada ke Twin Tower, maka aku nekat ngajak bapak ibu buat liat si menara kembar. Berbekal peta monorail dan LRT yang didapat di hotel dan juga hasil browsing gimana cara beli tiketnya, aku pergi ke Stesen Bukit Bintang yang bener-bener deket hotel. Depannya hotel kan Lot 10, tinggal naik aja ke tangga stasiun situ, sampe deh di stesen Bukit Bintang. Di situ ada mesin penjual tiket yang tinggal pencet-pencet mau ke tujuan mana, beli berapa tiket, masukin duitnya, tunggu sampe ada koin warna biru muncul. Itu koinnya adalah tiket buat naik monorailnya. Masuk stesen, scan koinnya, otomatis plang bakal buka, trus koinnya disimpen jangan sampe ilang buat ntar dicemplungin ke mesin pembuka plang.

Dari bukit bintang mau ke KLCC harus oper monorail. Dari Bukit Bintang turun di Bukit Nanas terus jalan kaki lewat jembatan penghubung ke Dang Wangi buat ganti LRT jurusan KLCC. Sama sekali gak ribet kok. Menyenangkan malah pas naik kereta bawah tanah. Berandai-andai kapan Indonesia bisa punya transportasi masal sebagus itu. Hihihi.

Dengan mengikuti petunjuk di mana KLCC Suria, aku berjalan kaki menyusuri lorong besar dengan papan iklan di samping kiri kanan yang bisa berganti-ganti tiap beberapa detik. Maklum, aku ndeso. Hahaha.
Begitu masuk mall, yang kulihat adalah Vincci. Ow, langsung kalap sepatu. Setelah itu nanya pak security ke mana aku harus berjalan kalo pengen lihat twin tower dari luar. Ternyata gak nyasar kok. FYI, KLCC Suria Mall ini sebenarnya ya ada di dalam twin tower lantai 1-6. Dan di lantai 2 mall ini, kamar mandinya premium alias bayar (kalo gak salah 2 RM), lantai lainnya gratiiss.

Langit lagi cerah banget. Jadi puas buat foto pake latar twin tower. Nah, ini baru beneran ke Kuala Lumpur :p

image

Cieee~

Sudah capek, waktunya balik ke hotel dan berencana balik lagi malemnya ke KLCC lewat skybridge dari Pavilion ke KLCC. Eh, ternyata rencana hanya tinggal rencana karena sudah gempor duluan pas malemnya keliling Pavilion, one of precious mall in Bukit Bintang. Mau jalan ke Jalan Alor juga ujan, pas gak bawa paying. Hiks. Sedih gak bisa liat dancing fountain di KLCC Park, tapi ya gapapa lah, sayang badan daripada sakit.

1 Juni 2013. Kuala Lumpur-Sidoarjo

Ini adalah hari terakhir di KL. Sebelum sarapan, kami semua beres-beres dan ngangkutin koper ke lobby. Tujuan hari ini adalah Batu Caves yang lumayan jauh di perbatasan KL sana. Kurang lebih 1 jam perjalanan dari Bukit Bintang ke Batu Caves naik bas persiaran.
Sampe di Batu Caves, matahari lagi panas membara, menyengat banget. Nah, maklum ya yang ikut tur ini banyak pasangan di atas 40 tahun, semuanya milih ngadem di kedai makan pinggir parkiran. Sedangkan aku, bapak, ibu lebih milih mendaki ke atas menuju gua yang katanya keren.

image

Harus hati-hati saat menaiki tangga yang kecil-kecil dan licin karena bekas air hujan. Belum lagi hati-hati kalo bawa makanan/minuman, monyet-monyet di sini nakal. Ya 11-12 sama monyet di Mendit sih, wkwkwk.

Dan saat menapak anak tangga terakhir, rasanya puas bangeeet. Dan aku terkagum sama langit gua yang sangat mulus. Keren lah. Apalagi di dalam sana ada beberapa kuil kecil yang lagi ramai karena upacara. Ditambah bapak ibuku gak mengeluh capek, aku makin bangga. Umur sih boleh di atas 50, tapi semangat masih kayak anak muda. Hahaha.

image

Gak terlalu lama di area Batu Caves, Kak Maria kemudian mengajukan opsi mau ke mana setelah ini. Kalo aku sih maunya cari coklat. Kan katanya gak afdol kalo gak beli coklatnya Malaysia. Yo wis setelah dari Batu Caves, dibawa sebentar ke duty free shop dan makan siang, setelah itu baru ke Cocoa Boutique. Si bapak mah nyuruh ambil ini itu, anu inu buat oleh-oleh anak buahnya di bengkel.

image

Lepas dari cocoa butik yang menawarkan banyak varian isian coklat, ternyata isi rombongan minta ke KLCC Suria. Oalah, mbalik maneh nang mall iki. Gapapa lah sekalian ngapalin tempat-tempat di sini, plus foto bertiga sama bapak ibu di depan twin tower. Kan kemarin gak ada foto bertiga. Hehehe.

image

Stunning!

Puas gempornya, kemudian balik lagi ke hotel buat ambil koper dan kami pun mengakhiri tur kami di KL. Bas persiaran ini mengantar kami ke LCCT.

Dalam hatiku pas boarding pesawat, “I’ll be back again to this airport, but, maybe just for transit. Hehehe,”

Kenyataannya sih iya aku balik lagi ke Kuala Lumpur di bulan Oktober 2013 tapi dengan travelmate yang berbeda dan tentunya cerita yang juga berbeda. Dengan siapa? Ngapain aja? Ketemu siapa? Nantikan kelanjutan jutaan cerita di Kuala Lumpur. Cuma di blog ini *dancing*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s