1

Kursi depanku kosong. Di atas meja hanya tersaji segelas ocha panas. Di hadapanku, ada buku menu dengan begitu banyak pilihan makanan khas Jepang dan hanya kubolak-balik cepat. Selang beberapa detik untuk kedua  kalinya, pramusaji menghampiriku. “Ready to order, Miss?

Kugelengkan kepala sambil tersenyum, “not yet. I’ll order when my friend comes. I’ll call you then.

Okay, Miss. Enjoy your ocha first.

Kembali kuedarkan pandanganku di restoran Jepang yang cukup ramai pengunjungnya. Ruangan sekitar 8 meter kali 5 meter ini berkonsep open kitchen. Asap yang mengepul dari tempura yang digoreng dan juga uap panas dari teko ocha seolah memenuhi dapur yang hanya dibatasi kaca dengan meja pengunjung. Koki yang asyik memasak, pramusaji yang selalu tersenyum melayani tamu, dan tamu yang lahap menyantap pesanannya. Aroma udon panas juga menguar memenuhi rongga organ penghiduku dan memaksa kelenjar ludahku mengeluarkan liur lebih banyak. Perutku mulai bergejolak, aku bisa mendengar bising ususku meningkat karena aroma yang menggoda itu. Untung saja suasana di sini ramai. Bila tidak, mungkin pengunjung yang lain bisa mendengar keroncongan perutku. Begitu ramainya pengunjung di sini, beragam bahasa pun kudengar dalam ruangan ini. Para koki bersahutan menyebutkan pesanan dalam bahasa Jepang, pramusaji saling bercakap dengan bahasa Inggris bercampur Melayu, dan kudengar pula dua orang laki-laki yang mengenakan jas di pojok ruangan bercakap dengan bahasa Perancis. Sungguh gaduh.

Kulirik jam tanganku. Jarum panjangnya hampir mencapai angka 12. Sebentar lagi pukul 7 malam. Mendadak ada yang membuat bunyi keroncong perutku meredam dan kali ini detak jantungku terdengar onar.

Aku di sini hanya duduk bukan tanpa alasan. Aku menunggu seseorang. Mmm, sebaiknya aku mengatakan dia kenalan baru. Tepatnya dikenalkan oleh sepupuku saat makan siang 3 hari yang lalu melalui Facebook. Dan malam ini, untuk pertama kalinya aku bertemu langsung dengannya. Pertama kalinya pula aku bertemu dengan laki-laki asing tanpa ditemani siapapun di negeri orang. Pengalaman yang menegangkan dan tak bisa kutentukan bagaimana akhirnya. Meskipun dalam 3 hari ini kami bisa berbincang dengan mudah di WhatsApp, tapi dalam nyatanya lidah ini bisa menjadi kelu ketika mata kami memandang. Ah, aku terlalu tegang. Kugelengkan kepalaku dan kutarik napas dalam-dalam.

“Rileks, Kha. Rileks.”

Aku mencoba meyakinkan diriku sendiri dalam hati. Kali ini kupejamkan mataku dan kuhembuskan napas perlahan. Kucoba mengenyahkan suara detak jantungku yang makin tak keruan.

Saat mataku masih terpejam, terasa getaran dari pundakku dan itu membuatku kaget hampir saja berteriak, namun suaraku cekat di tenggorokan.

“Marizkha?”

Kutoleh ke arah kiriku. Seorang laki-laki tersenyum kecut menatapku. Mungkin dia kaget melihat reaksiku yang berlebihan. Beberapa pasang mata juga menoleh pada kami berdua kemudian melanjutkan kegiatan makan mereka.

I’m so sorry if it suprised you. Sorry. I apologize.

Yeah, yeah, fine. I was surprised, hehe. Take a sit, please.

Senyum kecutnya menghilang berganti dengan senyum yang manis. Sialan, debar jantungku makin tak terkendali. Senyum itu layaknya maut buatku.

Hi, I am Halim. And I apologize bout that moment. Trully, I don’t mean to make you scream.

Hahaha. That’s okay.

Kemudian kami terdiam lama. Mungkin bila kami di lapangan, suara jangkrik terdengar bersahutan.

Pandangan kami tak sengaja bertemu. Senyumnya mengembang. Senyumku kaku. Lidahku juga terasa kelu. Mati.

Kukirimkan sebuah pesan pada sepupuku.

Anjir lo. Ini cowok cakep banget. Gw speechless sekarang!

Ready to order now, Miss?

Syukurlah pramusaji itu datang lagi dan bisa mengalihkan kegundahanku.

Yes, donburi with steamed salmon. And orange juice, please.

And you, Sir?” pramusaji itu menatap Halim dengan genitnya.

“Udon dengan tempura prawn, satu. Orange juice also.

Any other?

No.” jawab kami bersamaan. Dan senyumnya kembali mengembang. Aduh, ada yang tepat menghujam lidahku dan aku tak bisa mengeluarkan satu kata pun.

Okay, your order will ready in 15 minutes.” Pramusaji itu pergi dan keheningan kembali hadir di antara kami.

“Mungkin lebih nyaman bila kita cakap dengan menggunakan bahasa. Tak masalah ke?” Halim berusaha mencairkan suasana.

Aku hanya menggangguk dan menyunggingkan senyum.

“Bagaimana dengan 3 hari di Kuala Lumpur? Fun?” Senyum maut itu lagi-lagi terukir di bibir Halim yang merah.

Lampu ponselku berkedip warna biru. Satu pesan masuk. Kubaca cepat pesan dari sepupuku.

Hahaha, enjoy your night, sweety!

Kuraih gelasku dan kuteguk ocha yang sudah dingin itu. Kubasahi kerongkonganku dan aku mulai berdehem pelan sebelum menjawab pertanyaannya. Aku tak boleh terlihat grogi.

“Jadi begini….”

-bersambung-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s