2

¹

Namaku Marizkha. Usia 27 tahun. Pekerjaan wiraswasta. Aku memiliki usaha bersama beberapa teman mendirikan tur dan travel. Banyak yang berkata bila kita harus memiliki pekerjaan di mana kita melakukannya dengan ikhlas. Dan ya, sesuai hobi jalan-jalanku dan banyaknya permintaan pasar untuk melakukan traveling, aku memutuskan membuat usaha ini. Nyatanya baru 2 tahun aku menjalankan dan menekuninya, usahaku sudah berkembang dan memiliki banyak pelanggan.

Dengan jam kerja yang fleksibel ini, aku merasa bisa menjadi seorang jumper. Seperti hari ini, pagi sarapan di Jakarta, makan siang di Bandung dan malam harinya aku tidur di Kuala Lumpur. Banyak teman yang iri padaku tentang pesatnya usahaku, tentang kehidupanku yang layaknya kutu loncat bisa berpindah tempat dalam sekejap. Tapi itu menurut mereka. Hidup ini dilihat orang lain hanya dari kulit luarnya saja. Rumput tetangga memang selalu terlihat lebih hijau. Siapa yang tahu bagaimana pontang-pantingnya diriku ketika dulu belum memiliki banyak guide untuk tiap tur. Aku harus menemani rombongan yang berbeda hampir tiap minggunya. Aku tak memiliki banyak waktu berkumpul dengan keluarga dan juga untuk urusan percintaan. Tapi karena aku melakukannya dengan senang hati, beban yang kurasa tak menurunkan semangatku untuk bekerja.

Saat ini memang aku berstatus single. Tak ada pacar atau teman dekat. Jangan katakan kamu juga tak percaya tentang kenyataan ini. Hampir semua meragukan mengapa aku masih betah sendirian di usia 27 ini. Tapi aku bisa apa? Pekerjaan yang lumayan menyita waktu untuk memanjakan diri tentu membuatku belum bisa memikirkan hal ini. Beberapa orang atau mungkin sebagian besar temanku beranggapan bila aku belum bisa berpindah hati dari mantanku. Yah, mantan terakhir yang memiliki begitu banyak kenangan.

Kuceritakan sedikit tentang mantanku. Kami berdua sudah bertunangan, aku ditinggal sekolah ke luar negeri, namun dia kembali ke tanah air dengan keputusan bahwa dia merasa tak cocok lagi denganku. 3 bulan kemudian aku menemukan sebuah undangan pernikahan dirinya dengan perempuan yang juga sekolah di luar negeri bersama dia. 7 bulan setelah pernikahannya kudengar kabar bahwa istrinya telah melahirkan seorang putra dengan berat sesuai bayi lahir cukup  bulan. Hell yeah. Aku yang awalnya begitu limbung karena perpisahan ini lantas menjadi yakin bahwa mantanku itu memang bukan yang terbaik untukku. Dan seorang sahabat mengajakku pergi ke sebuah pulau di NTT dengan dalih agar aku bisa melupakan kenangan bersama mantan. Namun, siapa yang akan bisa menghancurkan kenangan? Hanya Tuhan yang bisa. Sehingga perjalananku ke NTT merupakan sebuah perjalanan di mana aku berdamai pada hatiku dan merelakan akan semua yang telah terjadi.

Dari situ pula aku menemukan sisi diriku yang lain bila aku senang dengan hal berbau petualangan, aku senang menghirup udara di tempat baru, senang berinteraksi dengan orang-orang baru. Sekejap kudiskusikan pada teman yang mengajakku pergi dan terwujudlah usaha kami hingga saat ini. Kesibukan ini yang membantuku banyak melupakan mantan itu. Aku sudah move on.

Meskipun sudah move on tapi jika belum punya pasangan baru, tetap saja tampak salah di mata orang lain. Dasarnya keluarga Indonesia bila setiap kali ada pertemuan keluarga maka pertanyaan yang menjejali telingaku adalah,”Kha, kapan nikah?”, “pacarnya orang mana nih?”. Kenapa orang-orang ini tak ada hentinya menanyakan hal itu? Sementara aku yang menjawab sudah merasa lelah hati dan cukup menyunggingkan senyum saja. Oh, Tuhan, tolong segera pertemukan aku dengan jodohku supaya tak ada lagi yang bertanya kapan aku akan menikah.

Dan rupanya Tuhan mulai mendengar doa-doaku. Bukan di negeri sendiri, malah di negeri orang lain.

Vinda, sepupu terbaikku, memintaku untuk membantu membereskan apartemen barunya di Kuala Lumpur. Satrio, suaminya, baru saja dipindahkan kerja ke Kuala Lumpur setelah 3 tahun hidup di Bangkok. Vinda, yang juga tempatku menceritakan keluh kesah dan kegembiraanku, mengajakku makan siang di Kuala Lumpur. Dia mulai menanyakan padaku tentang siapa laki-laki yang dekat padaku, siapa laki-laki yang sedang aku incar dan masih banyak pertanyaan yang menginvestigasi kehidupan asmaraku. Kemudian dia melontarkan ide untuk mengenalkanku pada rekan kerja Rio, sapaan akrab suaminya, yang kebetulan juga orang asli Malaysia. Sebenarnya dia menawarkan beberapa nama rekan kerja Rio yang single, tapi dia sendiri yang malah menyarankan untuk lebih baik dekat dengan pria Malaysia yang dia panggil Halim. Sebab selama di Bangkok, Halim sering berkunjung ke rumahnya dan dia banyak menceritakan kehidupannya. Singkat kata keluarga kecil Vinda merasa dekat pada Halim dan mengapa tak mengenalkan Halim pada diriku. “Bukannya orang baik harus bertemu dengan orang baik pula?” ujar Vinda di akhir penjelasan dia tentang sosok Halim.

“Trus gue harus gimana? Masa gue yang ngajakin dia kenalan dulu? Ogah, Vin.” tukasku sambil menuntaskan suapan terakhir nasi lemak.

“Enggak, Kha. Lo tenang aja. Ini kita foto aja berdua, trus fotonya gue kirimin ke Rio. Biar selanjutnya Rio yang beraksi.”

“Terserah lo deh.”

Sesaat setelahnya, Vinda langsung mengambil tongkat saktinya untuk berselfie. Kami berdua langsung mengambil banyak pose, tak peduli apa yang dipikirkan orang lain yang menatap pada dua perempuan yang mungkin mereka pikir tak waras ini. Setelah 10 jepretan selesai, Vinda langsung mengutak-atik dan memilih foto yang dia kirimkan pada Rio.

“Kha, ini lho si Halim. Sumpah deh, dia ganteng. Cocok banget ama lo yang manisnya gak ketulungan ini.”

“Kampret lo, Vin!”

Vinda menyodorkan ponselnya dan menggeser foto-foto di layar. Menunjukkan sebentar fotonya bersama Rio dan Halim ketika tinggal di Bangkok. Memang sosok yang ditunjuk Vinda itu ganteng. Wajahnya khas Melayu. Penampilannya rapi. Dari raut wajahnya terlihat dia adalah pria dengan usia 30an yang sudah dewasa dan mapan.

“Nah, beres deh kata Rio. Lu disuruh nunggu aja kapan Halim bakal ngawalin kenalan ama lo. Gak usah ngarep banyak ya, sepupu gue.” goda Vinda sambil mengedipkan matanya berulang.

“Asem lo! Eh tapi Vin, lo jangan ngarep banyak dari gue ya. Yang penting kenalan dulu. Oke?”

“Iya lah, Kha. Gue gak berharap lebih. Yang penting kenalan dulu. Masalah lo ternyata cocok ama dia, ya lo berdua udah gede lah.”

Jujur saja, sebenarnya aku tak terlalu suka dengan cara berkenalan virtual. Menurutku akan banyak menipu karena terlalu jaga image dan akan mudah membuatku ilfeel pada laki-laki itu. Entah mengapa akhir-akhir ini banyak laki-laki yang berkenalan padaku tapi aku malah merasa laki-laki ini terlalu membanggakan dirinya, atau malah terkesan memaksa untuk segera bertemu diriku. Tapi sudahlah, jangan berpikir aneh dulu.

Do not expext too much. Hanya berkenalan saja, Kha. Kenalan.

Malam harinya saat aku hunting foto di sekitaran KLCC Park, ponselku bergetar. Satu notifikasi permintaan berteman di Facebook masuk. Muhammad Halim.

Deg!

Jantungku langsung berdebar tak keruan. Aku seperti salah tingkah. Apa permintaan ini langsung diterima? Atau lebih baik dibiarkan dulu? Ah, aku tak bisa berpikir jernih.

Kutarik napasku dalam-dalam, kuhembuskan cepat, kuedarkan pandanganku menyaksikan air mancur yang meliuk dengan indahnya. Kukumpulkan kekuatan yang kupusatkan pada jempol dan kutekan tombol terima pada
layar ponselku. Ada perasaan was-was ketika melihat layar ponsel dan aku sudah berteman dengan Halim di Facebook. Dan tak sampai lima menit, muncul sebuah pesan lewat Facebook messenger. Dari Halim.

Sengaja kubiarkan pesan itu tak kubaca hingga aku menyudahi hunting foto malam ini. Ada yang berperang dalam batinku. Ada yang meneriakkan aku harus segera membalasnya, sementara yang lain mengompori untuk nanti saja membalasnya di apartemen. Aku jadi gusar sendiri. Aku ragu, apa iya harus mulai mengobrol dengan laki-laki asing? Aku mulai meragukan nanti harus berbincang dengan bahasa apa. Terlalu banyak pikiran di otak yang membuatku pusing.

Baru sampai di apartemen, aku balas pesannya. Dan malah akhirnya kutinggal tidur karena aku sudah lelah seharian membereskan apartemen Vinda dan kemudian mencari udara segar di taman. Tapi entah bagaimana ternyata percakapanku keesokan harinya dengan Halim malah mengalir dengan mudah. Terkadang Vinda memergoki    diriku sedang tersenyum simpul saat memainkan ponsel. Malah aku sendiri merasa tak sabar bila pesanku tak kunjung dibalas. Meskipun aku tahu bahasa Inggrisku kacau dan beberapa kali aku membuka kamus online karena aku tak tahu arti dari kata-kata Halim, tapi aku merasa nyaman dengan percakapan seharian ini. Entah mengapa dan entah bagaimana.

Are you free in tomorrow night? I want to meet you.
Mmm, dinner maybe?

Itu pertanyaan yang membuatku menjadi semacam awal gila. Di hari kedua berkenalan dan hanya berkomunikasi lewat WhatsApp, dia sudah berani mengajakku bertemu. Mati aku. Mati.

“Udah lah, Kha. Temuin aja. Gak ada salahnya kan?” Rio berusaha menenangkanku sambil menggoda di saat bersamaan.

“Ya sapa tau emang jodohnya. Udah Kha, ketemuan aja lah.” Vinda yang masih sibuk menyiapkan makan malam di dapur ikut menimpali ucapan suaminya.

“Tapi gue grogi tauuk! Ini di KL, bukan di Jakarta.”

“Trus apa hubungannya KL ama Jakarta? Emangnya kalo lo kopdar di Jakarta, lo gak bakal deg-degan? Lo lebih nyaman ketemuan di Jakarta? Helloooo, young lady!” Vinda mulai mengeluarkan kata-kata yang panjang. Tapi iya juga ya, apa kalau aku bertemu dengan Halim di Jakarta tak akan membuatku belingsatan seperti sekarang?

“Ketemuan aja, Kha. Tapi langsung di meeting point. Gak usah pake jemput-jemputan,” tukas Rio.

“Gitu ya, Yo?”

Rio kemudian menganggukkan kepala engan yakin. Vinda di belakangnya mengacungkan jempol tinggi-tinggi.

Kuraih ponsel di atas meja. Kuketik dengan cepat balasan untuk Halim.

Yes, I’m free for tomorrow.
Dinner? Where?

Tokyo Street, Pavilion.
Tokyo Don restaurant at 7 p.m
How?

Japanese food. Sounds great.
See you there🙂

Okay.
Have a sleep tight tonight.
See you soon🙂

-bersambung-

2 thoughts on “2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s