3

²

Kuraih gelasku dan kuteguk ocha yang sudah dingin itu. Kubasahi kerongkonganku dan aku mulai berdehem pelan sebelum menjawab pertanyaannya. Aku tak boleh terlihat grogi. Namun menyembunyikan rasa grogi dan gelisah ini cukup susah dan menyiksa. Kuremas ujung bajuku. Kuusapkan bintik-bintik keringat yang mulai membasahi telapak tanganku. Mungkin Halim sendiri menyadari perempuan yang duduk di depannya bersikap begitu aneh. Aku tak melihat ada raut gelisah dari Halim. Hanya yang bisa kubaca dari raut wajahnya bila dia sosok yang pendiam.

“Jadi begini, tiga hari di KL cukup menyenangkan. Meskipun tujuan utama datang ke KL bukan untuk refreshing.”

“Untuk apa datang ke KL bila bukan nak pergi jalan-jalan?” suara Halim benar-benar lembut. Tak pernah aku tahu suara lelaki seperti itu.

“Vinda meminta tolong untuk membantunya menata apartemen barunya lepas pindah dari Bangkok. Bila permintaannya tak dikabulkan, bisa jadi dia akan marah padaku. Kami berdua sudah seperti saudara kandung.”

Halim tersenyum. Senyum manis yang mengundang maut. Dadaku terasa penuh seketika. Perutku juga terasa mulas. Kenapa ini?

Excuse me, this is your order.

Pramusaji itu menata pesanan kami di meja. Perutku yang kelaparan memohon untuk segera diisi, tapi tanganku seolah kaku hendak mengambil sendok.

“Makanlah dulu. Pasti miss cantik ini sudah lapar.”

Sialan. Aku dipanggil cantik. Jantungku berdebar cukup kencang setelah mendengar pujian Halim.

Tenang, Kha. Baru begitu aja udah salting. Tenang, tenang.

Dua menit pertama tak ada satu pun di antara kami yang bersuara. Kami sibuk berpikir dalam hati sambil terus menyendokkan makanan ke dalam mulut. Aku masih sibuk menyusun daftar pertanyaan dalam kepalaku. Mungkin Halim juga melakukan hal yang sama.

“Lalu,”

“Kalau,”

Kami mengeluarkan suara di saat bersamaan. Kemudian kami tertawa. Dan Halim langsung mempersilahkanku untuk berbicara terlebih dahulu.

“Kalau Halim sudah lama kenal Rio?”

“Sekitar 3 tahun. Saya senang berkawan dengan Rio, he’s a good guy and great husband. Saya sedikit iri bila pandang Rio dengan Vinda. They are a great couple, loving each other and I don’t know why, every time I see them, I feel blessed and can feel their love too.

“Hahaha, yes. Both of them are sweet persons. I love them also.”

Setelah itu kami kembali dalam diam. Sesekali aku mencuri pandang pada Halim. Dia seorang laki-laki yang banyak tersenyum. Raut wajahnya begitu semringah. Dan tak kusadari aku jadi tersenyum sendiri melihat wajahnya. Apa ini yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama?

Jujur saja aku belum pernah merasa yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama. Aku dulu selalu membantah tentang keberadaan cinta ini. Aku tak pernah percaya pada cerita Vinda bagaimana dulu dia memuja Rio ketika bertemu Rio di acara kampusnya. Aku pun selalu berkata pada Vinda bahwa aku tak akan mengalami hal yang serupa. Rupanya aku menjilat ludahku sendiri. Kali ini aku merasa seperti perempuan yang baru saja bertemu pria idamannya, laiknya aku tak ingin waktu berjalan terlalu cepat karena aku masih menikmati malam ini, dan aku merasa tak ingin kehilangan Halim. Perasaan seperti apa ini.

“Sudah selesai?”

Pertanyaan Halim menyadarkanku bahwa aku telah melamun, memikirkan apa yang sedang kualami saat ini.

Kuanggukkan kepalaku. Kulemparkan senyumku dan dia membalasnya.

“Emmm, can I call you abang? I feel not comfort if I call you just Halim, it’s not polite to call person that older than me hanya dengan nama saja. Can I?

“Terserah Marizkha.”

“Dan bila Marizkha tak masaalah, bagaimana bila saya mengajak Marizkha lebih mengenal Kuala Lumpur?”

Tuhan, bisakah Kau perlambat waktu ini? Aku masih ingin melihat senyum dan mendengar suara laki-laki ini. Tuhan, aku benar-benar merasa jatuh cinta.

**

“Vin, gue harus ngakuin kalo cinta pada pandangan pertama itu emang ada. Dan gue ngrasain kalo gue udah cinta sama Bang Halim.”

Wait. You call him abang? Wah, kemajuan bener ini. Gue seneng banget.”

“Ngapain lo seneng segitunya? Iya kalo Halim seneng gue, kalo ga?”

“Ya jangan gitu lah, Kha. Lo kudu optimis. Gue yakin kalo lo bisa bikin dia jatuh cinta sama lo. Seperti yang gue ceritain semalem. Yakin ama gue.”

Aku jadi tersenyum malu ketika mengingat apa yang diceritakan Vinda semalam.

“Udah ah, tidur cepet deh malem ini. Besok lo juga janjian ama doi ke Colmar kan? Gue juga mau bobok dulu. Tapi sebelumnya gue WA si Halim dulu aaah.”

“Hahaha, sialan lo!” kuambil bantal kecil di sofa. Namun Vinda sudah pindah posisi terlebih dahulu sebelum bantal tadi melayang.

Aku melangkah menuju kamar. Ponsel di genggamanku tak menunjukkan tanda kehidupan. Hanya saja kubuka lagi percakapanku dengan Halim. Baru saja 5 menit aku masuk apartemen, dia sudah mengirim pesan menanyakan apa besok aku ada waktu luang dan bisa pergi jalan-jalan dengannya ke Colmar. Mungkin itu maksudnya untuk mengajakku lebih mengenal Malaysia. Tanpa banyak berpikir aku langsung menjawab iya. Setelah itu dia mengirimkan pesan singkat agar aku lekas istirahat.

Kemudian aku mengingat lagi cerita Vinda tentang keluarga Halim. Tentang keinginan Halim memiliki istri seorang warga negara Indonesia. Tentang bagaimana keluarga dekat dengan keluarga asli Indonesia. Keluarga yang berasal dari Medan yang selalu Halim ceritakan bila ia mendapatkan kebaikan dari Vinda atau Rio. Dia merasa orang Indonesia begitu baik dengan dirinya, sehingga tak ayal dia menjadi dekat dengan banyak warga Indonesia. Vinda juga bercerita saat tinggal di Bangkok, Halim pernah menyukai seorang mahasiswi asli Bandung yang sedang kuliah di Bangkok. Namun, sayangnya si mahasiswi tersebut tak menerima cinta Halim. Dan setelah kejadian itu Halim meminta pada Rio untuk dikenalkan pada perempuan asal Indonesia yang baik dan siap menikah.

Pipiku menghangat. Aliran darah ke sana rupanya meningkat. Begitu pula dengan detak jantungku. Cerita Vinda tadi juga sudah kudengar dari Halim. Namun, dia tak menceritakan keinginannya menyunting perempuan asal Indonesia. Dia hanya bercerita tentang keluarga Bu Erni asal Medan yang sudah dia anggap seperti bibinya sendiri.

Bolehkah aku merasa di awang-awang? Perutku terasa geli. Ada yang menggelitik di seluruh lapang perutku.

Lampu ponselku kembali menyala. Ada pesan dari Halim.

Jangan tidur terlalu larut.
Esok kita kan jumpa kembali.

See you tomorrow, beautiful!

Senyumku mengembang lebar. Kurasa tidurku tak akan terlalu nyenyak karena sibuk memikirkan apa yang akan terjadi esok hari. Bolehkah pertemuan besok kusebut sebagai kencan?

-bersambung-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s