4

3

Berulang kali kutatap sosok dalam cermin di depanku. Apa yang dia kenakan sudah pantas? Bagaimana dengan tatanan rambutnya? Pilihan sepatunya? Ah, perempuan dalam cermin itu tampak kacau. Dia kebingungan. Ya, itu aku.

Vinda menyarankanku untuk memilih baju lengan panjang atau kombinasi dengan coat agak tebal mengingat udara di Bukit Tinggi yang dingin. Dia juga meminjami sepatu flat boot miliknya. Beruntung karena ukuran kakiku sama dengannya. Tapi ada yang aneh pada bayanganku di cermin. Coat warna lilac, skinny jeans dan flat boot. Itu bukan diriku. Benar-benar bukan kepribadianku.

Jam di dinding terus saja berputar. Sudah jam 9.30. Tiga puluh menit lagi, Halim akan ada di lobi apartemen. Aku tak mau menjadi orang yang terlambat dari janji. Langsung kucopot coat dan sepatu boot. Kusapukan bedak, kubuat garis mata di kelopak mata agar mataku tampak tajam, dan kukuaskan perona pipi. Tak lupa pelembab bibir juga kuoles agar bibirku tak tampak kering. Rambutku kubiarkan terkuncir tinggi. Kusambar scarf yang tergantung di dekat meja rias Vinda. Tinggal 5 menit lagi. Segera kukenakan sneakerku yang lumayan kotor. Ah, biar saja. Lebih baik menjadi diri sendiri daripada seharian tak nyaman dengan pakaianku.

Tak ada antrian panjang di lift. Dan begitu sampai di lobi, aku sudah melihat Halim duduk di sofa sambil membaca koran. Tiba-tiba dadaku terasa penuh. Kuhela napasku perlahan.

“Ehem,”

Halim langsung bergerak dari duduknya dan melipat koran yang dia baca.

“Oh, hai. Sudah ready?”

Tatapannya memindaiku dari ujung kepala hingga ujung sepatuku. Seolah dia takjub pada makhluk yang ada di depannya. Apa penampilanku salah?

Aku menganggukkan kepala.

There’s nothing we waiting for. Let’s go!

Halim berjalan agak cepat di depanku. Dan begitu sampai di depan mobilnya, dia membukakan pintu untukku. Untuk pertama kalinya seorang laki-laki membukakan pintu mobil untukku. Jangankan mantanku yang terakhir, ayah saja tak pernah melakukan itu. Perlakuannya ini membuat dadaku terasa penuh namun aku gembira. Bibirku tertarik, aku tersenyum.

“Kira-kira perjalanan kita dalam masa 1 jam. Hope you’ll enjoy this trip.

Of course I will. And there’s you, it will be happier.

Halim tersenyum.

Mulutku berani sekali berkata seperti itu? Dari mana keberanian itu?

Dan di saat aku menoleh keluar melihat rentetan kepala sawit, ada yang hangat menyelimuti tanganku. Sekaligus getaran listrik yang menyengat di dadaku membuat rambut halus di tanganku berdiri. Halim memegang tanganku. Rasanya aku ingin melepasnya karena tak enak hati. Tapi ada yang mencegah diriku untuk melakukan itu.

**

Colmar Tropicale, sebuah tempat di daerah Bukit Tinggi dengan jarak tempuh sekitar 1 jam dari pusat kota Kuala Lumpur. Sesuai namanya, Colmar, tempat ini merupakan reintepretasi dari Colmar Village yang ada di Perancis. Pintu gerbangnya saja mirip kastil kuno. Rumah maupun bangunan lainnya juga bergaya persis dengan bangunan Eropa. Dan udaranya yang dingin membuat tiap pengunjung betah berlama-lama di tempat ini.

Aku sengaja meminta tolong pada Halim untuk menjepret diriku dengan latar belakang bangunan kuno. Kujadikan foto tadi sebagai gambar profil di BBM. Sontak beberapa saat banyak chat yang masuk yang menanyakan apa benar aku berada di Eropa. Tipuan yang menarik.

Hari ini Colmar Tropicale ramai pengunjung. Maklum hari ini Sabtu. Sama seperti di Jakarta, hari Sabtu merupakan hari libur untuk pemerintahan di Kuala Lumpur. Mungkin karena itu aku melihat banyak sekali keluarga yang sengaja datang kemari untuk berlibur. Dan entah mengapa, perhatianku selalu tertuju pada pasangan suami istri yang masih muda. Rasanya aku iri. Aku juga ingin berlibur berdua bersama suamiku kelak.

Any problem, Marizkha? Wajahmu tampak sayu.”

Kugelengkan kepala dan kuberi dia senyum paling manis.

“Kemarin saat aku browsing tentang tempat ini, aku membaca di sini ada kedai yang jual es krim. Bisakah kita makan es krim sekarang?

Anything for you, lady.

Tangan Halim kembali menggenggam tanganku. Hal ini langsung membuat langkah kakiku terasa ringan. Hatiku tak lagi merasa iri. Ada apa dengan Halim? Tiba-tiba dia memegang tanganku dan kali ini lebih erat. Dan lagi-lagi aku tak ingin melepas genggamannya yang hangat. Semua terasa nyaman.

Tampak sekitar 10 orang yang mengantre untuk mencicipi es krim di Le Glacier. Aku mengedarkan pandanganku. Suasana yang sangat nyaman untuk bersantai menikmati es krim di Colmar Tropicale. Kemudian pandanganku terhenti di meja yang kosong di pojok luar taman. Aku langsung memberi kode pada Halim untuk tetap antre dan aku duduk di sana.

Double choco, please.

Kuambil kameraku, kujepret semua obyek yang menarik di sini. Kuputar lensaku dan kuatur manual kamera untuk mendapat gambar yang cantik. Sesekali kuarahkan lensaku pada Halim dan menjepretnya diam-diam. Aku tersenyum sendiri melihat hasil jepretanku.

“Senang betul dengan fotonya. Boleh lihat ke?”

Kudekap kameraku jangan sampai Halim melihat isi memori kameraku. Bisa malu aku dibuatnya.

“Hahaha, tingkahnya seperti budak kecil saja. This is your ice cream.

Kamera tadi kumasukkan dulu dalam tas dan aku mulai menyendokkan es krim tadi. Rasanya begitu nikmat. Langsung melumer di dalam mulut. Menyenangkan sekali bisa duduk berdua dengan Halim sambil menikmati es krim selezat ini.

“Mungkin Marizkha bisa bercerita sedikit tentang pekerjaan Marizkha pada saya. Saya masih penasaran.”

“Saya punya usaha bersama beberapa teman dengan membuka jasa tur dan travel. Terkadang saya menjadi guide bagi rombongan tamu saya. Semua karena saya senang traveling. Dan datang ke Colmar sini bisa menjadi destinasi baru bila pergi ke Kuala Lumpur. Quite interesting here. Terutama untuk berlibur keluarga atau honeymoon. Am I right?

“Hahaha, yes.”

And do you like traveling too? Do that when you’re off duty?

No, I dont like traveling. Prefer to watch TV at home because I can’t watch it when I am on rig.

“Ah, sedih sekali. Seharusnya abang bisa pergi traveling saat off duty. Ajak keluarga abang pun jadi.”

Don’t know why I’m not interested.

Aku kemudian ingat perkataan Rio semalam ketika tahu aku pergi ke Colmar. Seolah Rio terperangah saat tahu Halim mengajakku pergi ke Colmar. Kata Rio, Halim bukan tipe seperti itu. Dia tipe lelaki yang lebih senang merawat rumah ketimbang bersenang-senang di luar. Sifat yang bertentangan denganku. Mungkin sifat yang agak susah kuimbangi. Tapi bukannya itu jadi seni menemukan jalan tengah bila memang kami bersama? Ah, aku terlalu jauh memikirkan hal ini.

Ponselku berdering. Kubuka pesan singkat yang masuk. Isinya cukup mengejutkan. Aku harus pulang segera.

Abang, I got message from my mom. She told me to go home as soon as possible. My father entered hospital. He’s sick.

“Marizkha, tenang dahulu. Kita pulang sekejap lagi. Setelah sampai di Kuala Lumpur, kita cari tiket untuk pulang esok. First flight. Okay?

Hatiku tak tenang. Ayah masuk rumah sakit lagi. Berulang kali ayah keluar masuk rumah sakit karena gagal ginjalnya. Mungkin kadar ureum dalam darah beliau kembali meningkat. Mungkin ayah bersikeras tak mau cuci darah.

Sepanjang perjalanan menuju Kuala Lumpur, Halim tak mengajakku berbicara. Tapi aku tahu, dia menenangkanku dengan menggenggam tangan dan sesekali menggosok punggung tanganku.

**

“Kha, gue nitip salam buat Om Tante ya. Moga-moga Om Hendrik cepet keluar dari rumah sakit. Kasian nyokap lo kalo kayak gini.” ujar Vinda yang memelukku sebelum aku masuk menuju pemeriksaan imigrasi.

“Yang kuat ya, Kha. Gue tahu banget lo kayak gimana. Kuatin nyokap lo begitu sampe Jakarta.” Rio juga memberi salam perpisahan padaku. Aku tersenyum mendengar semangatnya.

“Lo berdua juga baek-baek ya di sini. Lo bakal betah kok di KL. Ntar jangan lupa jengukin bokap gue kalo lo udah dapet off kerja ya, Yo.”

Aku menatap pada Halim yang berdiri di sisi Rio. Aku tak ingin pergi secepat ini. Tapi ayah sedang terbaring di ranjang rumah sakit. Seandainya aku bisa tahu kapan bisa bertemu lagi dengan Halim.

“Marizkha., mungkin ini terdengar begitu terburu-buru. Tapi saya merasa nyaman ketika bersamamu. Saya masih ingin mengenal kamu lebih jauh. Tapi saya juga tak ingin seperti yang lain, yang terlalu lama in a relationship. Saya ingin segera menikah. Bolehkah saya mengenal dirimu lebih jauh sebagai calon istri saya?”

Hatiku mencelos. Beberapa bagiannya kemudian rontok tercecer di lantai KLIA. Kakiku semakin tertancap tak bisa bergerak. Mataku panas. Air mataku tak terbendung lagi.

“Kenapa menangis? Abang salah ke ucap seperti itu?”

Kugelengkan kepalaku kuat. Bukan abang, bukan. Ini air mata bahagia.

Speechless. Saya terharu. Saya tak menyangka abang akan berkata demikian.”

“Jadi, Marizkha bersedia?”

Absolutely, abang.”

Kupeluk dia erat. Aku tak ingin melepasnya. Aku ingin bersamanya lebih lama.

“Bulan depan saat abang off duty, abang akan pergi ke Jakarta dan pergi temui ayah ibu Marizkha. Insha Allah.”

Bisikannya membuat pelukanku makin erat. Tangisku makin pecah. Tak kusangka Halim memiliki perasaan yang sama denganku.

Suara panggilan untuk boarding terdengar lewat speaker bandara. Pelukan kami mengendur. Aku harus segera menuju imigrasi. Kuhapus air mataku. Kulihat Vinda ikut menangis. Rio tersenyum padaku.

Dont you worry, honey. I love you.

I love you, abang.”

Beda dengan kemarin saat di Colmar, telapak kakiku seperti menancap. Susah untuk melangkah. Benarkah ini awal kehidupan baruku? Long distance relationship with foreigner? Kulambaikan tangan ketika aku sudah melewati imigrasi. Halim tersenyum.

Bismillah. Whatever will be, will be.

-bersambung-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s