Merantau

Satu kata, banyak makna. Kedengarannya juga keren. Dan itu yang sedang saya jalankan, merantau.

Kali ini saya merantau ke ibu kota negara Indonesia tercinta yang hiruk pikuk, yang penuh, yang serba ada tapi serba mahal, Jakarta. Bukan untuk bekerja namun menimba ilmu. Alasan yang bertolak belakang dengan alasan merantau ke Alor, NTT.

Ada perasaan yang jauh berbeda ketika mengepak barang-barang buat dibawa ke Jakarta. Ada rasa takut yang terbawa seharian sampai kepala terasa berat ketika memikirkan bagaimana hidup di Jakarta nanti. Tentu ini hal yang berbeda seperti waktu akan berangkat ke Alor. Tujuan pergi ke Jakarta saja sudah jelas untuk sekolah lagi, bukan layaknya merantau ke Alor untuk bermain sambil bekerja. Bukan seperti ke Alor yang pergi bersama 4 orang teman yang sudah dikenal dalam hitungan tahun. Di Jakarta bakal struggle sendiri tanpa teman dekat yang berangkat dan berjuang bersama, apa iya saya bisa?

Sejujurnya hal yang saya takutkan adalah masalah finansial. Biaya sekolah dan kebutuhan hidup ditanggung penuh oleh bapak ibu. Saya sudah resign dari tempat kerja sehingga otomatis tidak akan ada lagi pemasukan tetap ke rekening saya. Sementara saya juga terkaget-kaget dengan begitu mahalnya biaya hidup di sini. Harga sewa kos bisa berlipat-lipat dibanding di Malang. Harga sekali makan bisa dibelikan 2-4 porsi makan di Malang. Tergantung beli makan di pinggir jalan kaki lima atau di tempat adem alias food court atau kafe. Belum kebutuhan lain-lain. Dari situ saya merasa kenapa saya masih merepotkan orang tua, bukannya ngebiayain sendiri, eh malah minta-minta. Dari situ juga saya pengin punya penghasilan lagi. Dan kepenginnya tanpa kerja di klinik, tapi lewat menulis. Saya pengin bisa berkiprah lagi jadi penulis dan menghasilkan uang dari situ. Maksudnya buat nambahin uang saku selama hidup di Jakarta.

Dua tahun bukan waktu yang sebentar. Belum lagi kalau lanjut ke jenjang spesialis, bisa jadi empat tahun menetap di Jakarta. Bayang ketakutan masalah finansial seolah jadi momok buat saya. Tapi kalau dipikir terus-terusan bukannya malah jadi beban dan gak konsen kuliah? Kekhawatiran ini saya sampaikan pada ibu saya dan beliau hanya bisa menanggapi, “doain aja bapak dikasih sehat terus jadi bisa ngebiayain sampe selesei. Dan kamu juga cari-cari penghasilan lain ya.” Malam itu juga saya menangis di kamar kos. Gak ngebayangin gimana berjuangnya bapak saya menghidupi saya di kota orang lain dan gimana tulusnya doa-doa ibu buat saya. Saya merasa menjadi orang yang paling beruntung saat itu juga sewaktu membayangkan wajah bapak ibu.

image

Beruntung juga saya dikelilingi teman dan sahabat yang baik. Tanpa pernah berkata capek mendengar keluhan saya, mereka selalu siap mendengar ceritaku. Allah masih sayang dan bahkan sangat sayang sama saya dengan mengirimkan banyak teman di samping saya walau jarak memisahkan kami. Jadi, saya yakin merantau kali ini akan membuat saya menjadi pribadi yang lain. Yang lebih bijak dalam menyikapi semua permasalahan. Dan bisa sekali dijadikan pelajaran bila nantinya saya menjadi ibu dari anak-anak yang menimba ilmu jauh dari saya.

Merantau berarti akan menemukan keluarga baru. Merantau berarti akan mendapat banyak pengalaman seru.
Jadi, bakal ada cerita yang banyak lagi di blog ini yang bakal kalian simak. Jangan pernah bosen untuk menyimak kisah saya di perantauan Jakarta ya? :’)

Lalu, apa sudah ada yang mau menawarkan kerja sama untuk nulis buat saya?😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s