Sepuluh Menit yang Tertunda

“Udah malem. Aku harus nganterin kamu pulang.”

“Aku bisa pulang sendiri. Beneran.”

“Jangan sebut aku pria kalo aku ga nganter kamu pulang.”

Mulutku sungguh terlalu. Sesumbar sekali.

Begitu pun jantungku. Kuharap dia tak mendengar suara jantungku yang berpacu bak derap kuda.

Sesekali kulirik dirinya. Tempahan sinar lampu dari mobil berlawanan arah pada wajahnya. Bibirnya yang tersenyum simpul. Semuanya membiusku. Lidahku kelu, aku tak mampu berkata apa-apa. Hanya tanganku masih mampu mengendalikan kemudi.

**

“Kak, entah apa itu namanya kebetulan ato rencana Tuhan. Makasih ya malam itu udah ngenalin aku sama dia. Tanpa kakak, mungkin pernikahan ini tak akan pernah berlangsung. Jadi kakak harus datang. Jadi saksi kebahagiaan kami.”

Sepuluh menit yang kutunda kala itu. Seandainya saja aku mengutarakannya.

2 thoughts on “Sepuluh Menit yang Tertunda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s