Jakarta Malam Ini

Aku tak melihat bulan separuh itu.
Mendung terlalu syahdu memenuhi langit.
Hanya gurat abu-abu yang rata berpendar.
Hanya hitam menutupi pandangan.

Aku tak lagi mendengar suara itu.
Suara yang menemani tiap malamku.
Akan bisikan bahwa kamu mencintaiku.
Oleh kamu yang menjadi tumpuan hidupku.

Ada tetes air mata mengiringi kisah.
Ada setumpuk rindu membebani jiwa.
Ada hati yang terpencar porak poranda.
Ketika aku teringat kau telah katakan cintamu habis tak bersisa.

[Salemba, penghujung Oktober 2014]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s