Semua karena Busway

Trans Jakarta atau yang biasa disebut busway telah menjadi moda transportasi pilihanku untuk berkeliling Jakarta. Entah mengapa aku jatuh cinta pada busway meskipun harus menunggu kedatangannya jauh lebih lama ketimbang nunggu angkot atau harus berdiri bermenit-menit di dalam busway. Karena di dalam busway aku belajar banyak hal. Belajar bersyukur, menghargai orang lain dan punya toleransi terhadap sesama.

Pertama kali cobain busway waktu jadi anak hilang arah setelah diputus pacar (curhat dikit lahya). Dari Gambir ke Istiqlal. Selanjutnya dari Juanda ke Matraman. Kalo kata Komutta, aku harus transit 2 kali. Di Harmoni aku harus berdiri antre lama banget buat dapet bus ke Pulogadung. Dari Senen nunggu bus arah Kampung Melayu juga lamaaa banget. Total perjalanan hampir 2 jam dari Juanda ke Matraman. Dan besoknya pas di kampus dibilangi temen kalo ada rute ekspress dari Juanda bisa langsung Matraman tanpa transit 2 kali. Sakitnya tuh di paha dan betis deh. Lengkap penderitaan kala itu jadi anak hilangnya. Dari situ Retha udah pinter. Ternyata dari halte Salemba buat ke halte Harmoni bisa 1 kali busway aja. Bhahaks.

Setelah itu, aku jatuh cinta dengan busway.

Suatu hari, aku lupa mau ke mana tujuan hari itu, aku berdiri di dalam busway dekat mas yang senantiasa berdiri njagain pintu busway. Lama-lama aku capek sendiri karena berdiri terlalu lama. Tapi, kemudian aku melihat ke arah si mas tadi. Gurat kelelahan si mas itu sungguh kentara. Sejenak aku berpikir. Berapa lama dia berdiri di situ? Berapa halte yang dia lewati setiap harinya dengan berdiri.

Deg!

Keluhanku karena berdiri terlalu lama langsung menguap.

Kudoakan sejenak buat si mas itu biar tetep sehat meskipun hampir di setiap harinya dia harus berdiri demi memenuhi kebutuhan hidupnya.

Aku mulai respek dengan para kru dalam busway. Aku makin jatuh cinta dengan busway.

Lain cerita waktu pulang dari Ancol.

Sepanjang Ancol sampe Salemba aku berdiri dekat pintu. Lagi-lagi dekat mas penjaga pintu busway.

Di salah satu halte ada mas-mas naik busway. Kemudian seorang perempuan yang berdiri di sebelahku menyapa mas itu. Percakapan pun terjadi. Karena aku punya kuping untuk mendengar, mau gak mau aku dengerin percakapan mereka. Dari pembicaraan mereka, aku menyimpulkan mereka berdua kerja di tempat yang sama dengan posisi si mas sebagai kasir. Si mas tadi mengaduhkan kejadian gak enak tentang kerjaannya pada si mbak. Ada kesalahannya yang bikin dia harus nombokin duit. Sampe akhirnya si mas penjaga pintu busway ikut-ikutan nanya ke si mas tadi karena ceritanya emang tampak seru. Dari situ aku mendengar lengkap dan mengerti ceritanya.

“Jadi tadi ada orang top up kartu di loket. Dia top up 20 ribu, tapi gue salah pencet 200 ribu. Gue baru nyadar pas lagi rekap hari ini. Apes deh gue. Gara-gara kebanyakan mencet nol. Gue harus ngganti duit karena kebanyakan masukin nolnya. Gimana makan gue besok-besok? 200 ribu itu banyak.”

Bukan cuma si mas penjaga pintu yang kaget. Aku juga ikutan kaget.

“Makanya jadi kasir itu gak enak dah. Giliran kayak gini bukan untung malah nombokin duit. Duh, apes gue, apees!”

Si mas itu kemudian terkulai lemas. Dia jongkok sambil garuk-garuk kepalanya. Sementara si mas penjaga pintu cuma bisa tersenyum. Miris. Apalagi saya.

Entah bagaimana lanjutannya, tiba-tiba duo mas ini kembali berbincang tentang bonus yang didapat dan dimasukkan sebagai saldo kartu Flazz. Si mas penjaga ini sungguh bersemangat waktu dia bercerita kalau di dalam kartu Flazznya ada saldo 300 ribu. Dia bercerita kalau sudah lama dia gak pernah ngecek saldo itu dan ternyata sudah terkumpul 300 ribu. Selama menyebut tiga ratus ribu, matanya langsung berbinar. Ceria.

JLEB!

200 ribu bagi mas kasir di loket busway atau 300 ribu bagi mas penjaga pintu busway merupakan nominal yang besar. Uang yang bisa dibelanjakan buat makan, buat kebutuhan keluarganya di rumah. 200 atau 300 ribu buatku bisa jadi nominal yang bisa langsung kuhabiskan dalam waktu sekejap. Seolah 200 atau 300 ribu itu terlalu mudah buat kudapat. Sementara untuk orang lain, nominal itu sangat berarti.

Aku mendapati mataku udah panas. Malam itu, Jakarta baru diguyur hujan. Jalanannya sudah setengah mengering. Mungkin hujannya sudah berhenti agak lama. Namun, ada petir baru saja menyambar hatiku. Mengingatkanku untuk lebih banyak bersyukur.

Tak hanya penjaga pintu busway yang setia berdiri lama. Namun, orang di kasir loket busway juga memiliki beban berat.

Dan puncaknya hari ini, ketika masuk halte Salemba, aku melihat pemandangan yang tak pernah kujumpai. Ada seorang laki-laki usia 30an sedang menyikat dan mengepel lantai halte.

PLAK!

Lagi-lagi aku tertampar.

Selama ini aku tahu kalo lantai di hampir semua halte busway yang pernah kusinggahi, hampir semuanya bersih. Tapi aku gak pernah tahu bagaimana lantai itu dibersihkan. Dan hari ini aku baru lihat. Ada petugas kebersihannya.

Gak bisa ditahan, mataku udah berair. Aku langsung sibuk membuka tas dan mengambil tisu. Aku gak ngebayangin berapa gaji bapak itu dari membersihkan halte busway demi membuat orang yang berada di halte merasa nyaman. Apa cukup untuk makan selama sebulan ditambah kebutuhan rumah tangganya? Sementara dia terus setia melakukan pekerjaan itu. Dan aku di sini merasa bisa hidup jauh lebih layak dari dia. Tanpa banting tulang, cuma nunggu setoran dari Malang. Dan hal itu langsung membuatku teringat bapak. Yang kerja setiap hari, ninggalin ibuk di rumah sendirian buat cari duit. Kerja buat ngirimin aku uang bulanan, uang hidup di Jakarta.

Aku sukses nahan air mataku biar gak tumpah di halte busway (norak! hahaha)

Di busway atau di halte busway, aku banyak mendapat cerita. Mendapatkan banyak pelajaran buat terus bersyukur. Buat ingat kalo masih banyak orang-orang yang harus berjuang keras buat mendapat lebih dari yang mereka butuhkan sehari-harinya. Buat mengurangi keluh kesah.

Aku berdoa biar semua yang bekerja dengan cara halal buat dapetin uang untuk kebutuhan hidupnya, untuk biaya pendidikan anaknya, terus dikasih kesehatan.
Dan ini semua juga jadi pengingat kalo kita harus banyak bersyukur karena gak ada nikmat dari Allah yang bisa kita dustakan.

Ah, busway. Kamu bikin aku jatuh cinta.
Terus kapan si Mas yang kucinta juga cinta padaku?
#kumat

2 thoughts on “Semua karena Busway

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s