(Tak) Ada Apa-apa

“Mau di smoking room ato non-smoking?

Smoking boleh.”

Seorang pria menarik kursi dan mempersilahkan seorang wanita duduk di kursi itu. Si wanita tersenyum, si pria membalas senyum. Siapa pun yang melihat adegan ini, pasti menebak dua orang tersebut adalah sepasang kekasih atau mungkin suami istri. Setidaknya itu yang berkelebat dalam benak satu pria yang lain.

“Jadi, sebenernya kalian berdua pacaran?”

Pertanyaan itu disambut tawa dari pria pertama dan sang wanita. Sang wanita kemudian menggelengkan kepalanya dengan santai.

“Tapi, ada chemistry yang beda sama kalian.” Pria kedua mengacungkan jempol dan telunjuk kedua tangannya, membuat kotak dan melakukan adegan zoom in zoom out pada pria pertama dan sang wanita.

“Elunya lebay.” Pria pertama menimpali.

Para pelayan wanita tak henti-hentinya bergantian melayani meja tersebut. Demi apa lagi kalau bukan mau melihat lebih dekat si pria pertama. Dandanannya memang berbeda dengan dandanan laki-laki pada umumnya di kota itu. Terlihat dia datang dari kota metropolis.

“Lama-lama gue kasih kartu nama gue kalo dari tadi mbak-mbak itu mondar-mandir deket sini,” gerutu pria pertama.

“Salah sendiri jadi cowo kok cakep, haha.” Wanita tadi tertawa perlahan sambil mencubit pipi pria pertama. Kemudian beberapa pelayan perempuan mulai berbisik-bisik.

“Gue ke toilet dulu. Lu jangan apa-apain doi ya, bro.”

Pria kedua mengacungkan jempol kanannya tanpa menoleh ke arah pria pertama. Tapi setelah pria tadi tak tampak di sekitarnya, dia mulai buka suara pada wanita di sebelahnya.

“Jadi bener kalian ga ada apa-apa?”

Wanita itu lagi-lagi menggeleng. Pandangannya tetap pada layar ponsel.

“Aku, aduh, susah juga ngomong pake aku kamu.”

“Ah, sok Jakarta!”

“Bentar lagi kamu juga bakal ngerasain.”

“Ha ha ha. Masa?”

“Jadi, bener ga ada apa-apa?”

“Enggak.”
“Emang kenapa?”

“Berarti aku punya kesempatan.”

“Maksudnya?”

“Pura-pura polos banget.”

Sang wanita menjulurkan lidahnya kemudian tertawa, memamerkan gigi gingsulnya.

“Tapi kelihatannya seperti ada apa-apa ya?

Sang wanita kembali tersenyum nakal seolah menyembunyikan rahasia penting. Si pria kedua ikut tersenyum sambil mencoba mengartikan desir yang berbeda di dadanya setiap melihat sang wanita tersenyum atau tertawa.

“Kayaknya seru nih becandanya. Ngomongin gue?”

“Ge er!” Tisu bekas mengelap sendok mendarat tepat di dahi pria pertama. Riuh tawa mereka bertiga kembali terdengar.

“Ini tadi dia nanya, apa bener ga ada apa-apa di antara kita berdua?” Sang wanita menjelaskan sambil menunjuk bergantian pada dirinya dan pria pertama.

“Gak ada, bro. Tenang aja. Doi available banget.”

“Berarti gue punya kesempatan dong ndeketin Miss Gingsul ini?”

“Silahkan. Lebar banget kesempatan lo.” Pria pertama memperagakan tangannya seperti pelayan kerajaan mempersilahkan raja untuk masuk ke dalam istana.

Tak ada yang menyadari, sang wanita berhenti tersenyum. Mengganti senyumnya dengan sesuatu yang miris. Matanya mengatakan lain. Matanya menatap pria pertama yang sedang tekun meneliti daftar menu untuk memesan gelas kopi kedua.

Benarkah tak ada apa-apa?

Pria kedua menangkap raut muka sang wanita. Kemudian beralih menatap pria pertama. Ada sesuatu yang mereka sembunyikan.

Benarkah tak ada apa-apa?

2 thoughts on “(Tak) Ada Apa-apa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s