Beneran?

Hidup di Jakarta ternyata tidak semudah yang Keyka bayangkan. Contoh sederhana saja, untuk menyeberang di jalan Proklamasi sangatlah susah. Selain karena jalan ini satu arah, kendaraan yang melaju tak memberi kesempatan pada pejalan kaki untuk menyeberang, dan yang terparah tak ada zebra cross di sepanjang jalan ini.

Sial. Rutuk Keyka yang sudah berdiri lebih dari tiga menit sebelum akhirnya dia bisa menyeberang dengan tenang.

Ponsel di saku celananya bergetar. Ada pesan masuk. Irman.

Aku udah di pempek Megaria ya.

Tak membalas pesan itu, Keyka menyelipkan ponsel tadi ke saku celana dan mempercepat langkahnya untuk menyeberang jalan Diponegoro menuju bangunan tua, Metropole.

Dinginnya udara AC menerpa wajah Keyka yang kemerahan karena sinar matahari saat ia membuka pintu dorong kayu tersebut. Ia melemparkan pandangan ke sisi kiri, memicingkan mata, dan nampak seorang pria mengangkat dan melambaikan tangan padanya.

Itu dia.

Keyka tersenyum dan membenarkan rambutnya yang sedikit berantakan. Irman juga terus tersenyum. Ada yang salah dengan detak jantung Keyka. Bukan, bukan karena ia mengidap kelainan irama jantung, tapi mengapa terasa seperti derap kuda yang berpacu. Keyka grogi. Entah mengapa hari ini Irman tampak sangat menggoda.

**
Tuk tuk tuk

Meja kayu itu berulang kali diketuk Irman. Berulang kali pula Irman memandangi jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Baru 5 menit tapi terasa seperti 1 jam.

Klinting

Tiap kali lonceng itu berbunyi karena pintunya terdorong, refleks Irman langsung menoleh ke arah tersebut. Bukan, bukan Keyka. Mungkin masih di jalan. Irman menenangkan hatinya yang sedari tadi terasa tak keruan.

Dia mengambil ponselnya dan mengetik pesan untuk Keyka memberitahukan bila ia sudah sampai di tempat. Dia berprasangka, siapa tahu Keyka tertidur di kos. Tapi tak mungkin. 20 menit yang lalu Keyka mengirim pesan bahwa dia sedang siap-siap.

Klinting

Kepala Irman langsung mendongak dan tampak seorang wanita dibalut kemeja flanel biru ungu dan celana jegging warna biru langit. Itu Keyka.

Irman mengangkat tangan dan tak mengendurkan otot pipinya sedetik pun untuk tersenyum. Keyka terlalu cantik hari ini, bahkan lebih cantik dari pertemuan pertama. Keyka membenarkan rambutnya yang sedikit berantakan sembari tertawa menatap Irman. Entah mengapa debar jantung Irman terasa sulit untuk dia kendalikan.

**
“Hai, cowo yang suaranya udah kayak candu.”

“Halo, cewek favorit aku.”

“Udah lama?” Keyka menarik kursi di sebelahnya dan duduk sembari melepas tas selempang warna biru. Diambilnya selembar tisu dari kotak tisu di meja dan mengelap bintik-bintik keringat di dahi.

“Emmm, tujuh menit lima puluh tiga detik.” Irman menyelidik pada jam tangannya dengan gaya bak detektif.

“Hahaha. Bisa aja.”

Irman menikmati pemandangan di hadapannya. Senyum Keyka seperti oase di tengah gurun, penyejuk jiwanya yang sedikit gerah setelah melewati kemacetan. Dalam hati Irman berteriak kencang, “Tuhan, sungguh indah ciptaanMu ini, ya Tuhan. Boleh bekukan waktu dulu biar aku puas memandangi dirinya?”

Irman membuka mulutnya, siap-siap mengambil suara.

“Attar apa kabar?”

“Gimana kabar Attar?”

Tawa mereka menggelagak. Mereka berdua sama-sama menanyakan Attar. Topik tersering yang mereka bahas yang mau tak mau harus Irman dengar dan tanggapi walau dalam dadanya ada yang terasa nyelekit tiap Keyka membicarakannya.

“Kamu dulu dong, Key, yang jawab.”

“Yang temen deketnya kan kamu. Aku ini siapanya juga aku gak paham.” Suaranya memelan dan pancaran sinar matanya meredup.

“Duh, kok pesimis gitu.”

“Abisnyaaa..”

“Sama aku aja deh kalo gitu. Gak usah dikit-dikit Attar. Hehe.”

**
Tadi nanyain Attar, beberapa detik kemudian nanyain kenapa ga ama aku aja. Dasar lelaki.

Keyka bingung, sebenarnya apa yang Irman mau. Selalu saja ada pertanyaan atau pernyataan persuasif. Ini Irman serius atau bercanda juga Keyka tak tahu jawabannya. Di sisi otak dan hati yang lain, Keyka penasaran dengan Attar. Sampai detik ini, sudah hampir satu bulan dia menetap di Jakarta, sama sekali Attar tak pernah menanyakan kabar Keyka, bagaimana kos barunya, mau pergi makan di mana. Sangat bertolak belakang dengan sosok Attar saat di Malang. Dan jauh berbeda dengan Irman yang sekarang perhatian dengan Keyka.

Irman selalu rela ditelepon hampir semalaman hanya untuk mendengarkan lamunannya tentang Attar tiap harinya, rela berpanas-panasan menembus kemacetan dari Tangerang ke Jakarta Pusat cuma untuk menemani Keyka mencari kos di hari pertama kedatangannya ke Jakarta lepas daftar ulang kuliah, dan pernah rela membatalkan acaranya kumpul bersama temannya di Grogol saat malam Minggu dan menemui Keyka yang tergeletak di ranjang UGD rumah sakit di Kelapa Gading karena kecapekan dan pingsan di dalam mall. Terlalu banyak kebaikan Irman yang Keyka tak tahu harus membalas dengan apa.

“Hey, ngelamun aja.”

Keyka terhentak dan sadar dari pikiran panjangnya. Senyumnya langsung melebar tapi lebih seperti meringis malu.

“Aku ke toilet dulu ya. Tunggu ya.” Irman mendorong kursinya dan memegang pundak Keyka begitu lembut. Dada Keyka bergetar merasa hal yang tak biasa.

**
Irman rasanya tak bisa berpikir jernih. Dibasahi mukanya berulang dengan air dingin dari kran. Tapi dinginnya air tersebut tak bisa ikut mendinginkan pikiran Irman. Ada yang bergelut di dalam otak dan hatinya.

Irman menatap bayangannya di cermin. Dia mengatupkan gigi-giginya, menguatkan dirinya bahwa dia pasti bisa. Dihentakkan tangannya ke depan, ditepuk wajahnya berulang dan bergumam sendiri menepis kegelisahannya.

Kakinya terasa ringan seperti tak menapak lantai ketika masuk lagi ke tempat makan itu. Jantungnya berdetak jauh lebih kencang ketimbang saat tadi dia memegang pundak Keyka. Padahal kali ini dia hanya melihat pundak Keyka yang naik turun teratur sesuai irama napasnya.

Irman mendekati Keyka perlahan, bisa dibilang dia agak berjingkat agar Keyka tak mendengar langkahnya. Kemudian dia membungkuk dan membisikkan sesuatu perlahan pada Keyka.

“Keyka, kalo aku mau ketemu bapakmu bilang aku mau nikahin kamu, kamu mau?”

“Hah? Beneran?”

“Iya, bener.” Irman masih membungkuk dan baru tersadar bila Keyka menjawab tanpa menoleh ke arahnya. Dan ternyata ada earphone melekat di luang telinga Keyka.

Sialan!

“Eh, iya ntar ya. See yah!”

Keyka memotong pembicaraannya dengan lawan bicara teleponnya dan menoleh pada Irman. Cepat-cepat Irman menegakkan badannya dan kembali duduk di depan Keyka.

“Siapa, Key?”

“Attar. Attar mau ngajakin ketemu malem ini. Ikutan yaaaa?”

Di saat mau ngomong serius sama Keyka, kenapa malah Attar ngajak ketemuan? Dan itu si Attar ngajak Keyka ketemuan? Dan ngajak gue juga? Shit.

**
Aku yakin telingaku gak salah denger. Telingaku baik-baik aja. Itu tadi Irman mau ketemu Bapak karena mau nikah sama aku? Masa sih dia bilang gitu?

Irman mengaduk es tehnya. Keyka pun demikian. Perasaannya tak tenang mengingat lagi tadi Irman sempat berbisik mau bertemu bapak. Bila pertanyaan ini terus dipendam, bisa-bisa vertigo Keyka kumat.

“Man, tadi pas aku ditelpon Attar, kamu bisikin aku bilang mau ketemu bapak mau bilang pengin nikahin aku. Itu beneran?”

**
Dengkul mlocot.
Irman mengumpat dalam hati.

Hampir saja es teh dalam mulutnya menyembur keluar.

“Kamu dengernya aku ngajakin nikah? Masa sih? Beneran? Kamu salah denger kali. Ha ha ha.”

Lidah Irman sudah kelu. Irman mendadak pusing.

**

4 thoughts on “Beneran?

  1. Ini keren.. tapi dulu pernah baca yg semacam ini ( maksudnya yg bagian si tokoh cowok bisikin ke tokoh cewek walau konteksnya agak beda dikit ). Overall bikin penasaran, dilanjutin dong.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s