Mentari, Langit, dan Air Mata

Banyak yang berkata ketika mentari tak bersinar dengan terang, hati kita tak merasakan hangatnya hidup.
Mereka berkata, ketika langit bermuram durja, hati kita akan merasakan duka yang mendalam.
Mereka juga berkata, ketika kaki bumi dibasahi akan air mata langit, hati kita akan merasakan sedih dan kenangan pahit di masa lalu.

Namun, itu tidak pada diriku. Tidak pada hatiku.
Setelah aku bertemu dirimu.

Kau adalah mentari hatiku yang selalu menghangatkan hidupku.
Kau adalah langit biruku yang tak pernah aku tahu berubah menjadi kelabu.
Kau adalah air mata langit yang datang membawa kesejukan di hatiku.

Tuhan mempertemukan kita dengan menitipkan sejuta tawa dan cinta pada dirimu untukku.
Hingga aku selalu mengucap doa dan syukur di akhir sujudku. Tiap saat di lima waktu.
Mungkin saat ini Tuhan bosan mendengarkan rapalan doa serta syukurku karena dirimu.
Tapi aku yakin, saat ini Tuhan juga ikut tersenyum melihat kita. Karena Tuhan selalu memiliki misteri indah untuk diri kita.

Tapi, bolehkah aku meminta hal yang lain, Tuhan?
Tuhan, bisakah dirinya yang membaca tulisan ini, Kau jadikan dia sebagai akhir pencarianku yang terindah?
Karena dia adalah mentariku, langitku, serta air mata bahagiaku.

Teruntuk, F.S.

Dari yang menyayangimu.

3 thoughts on “Mentari, Langit, dan Air Mata

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s