Cerita di Balik #15HariNgeblogFFDadakan

image

Hari 1, 17 Oktober 2012.
Weits, Mas @momo_DM lagi bagi-bagi judul dalam rangka mainan #15HariNgeblogFF. Buru-buru mention minta judul. Belum dibales. Mention sekali lagi. Gak dibales juga padahal yang lain uda dikasih judul ma dia. Hopeless.
@noichil : mention sekali lagi, Tha.
@mareretha : malu.
Sampai akhirnya mas @momo_DM ngeRT twitku tentang #MomenBerkilau. Kuutarakan kegundahanku yang 2x mention tapi gak dia bales. Dibilang gak ada mention dari aku. APAA?! Tapi dia baik, aku dikasih judul (Bukan) Waktu untuk Kembali jam 19.00 WITA. Batas akhir pengumpulan 23.00 WITA. Ngebut bikin deh. Eh, selesai hanya dalam dua jam (satu jamnya haha-hihi di twitter, satu jam lagi bener2 konsen bikin). Fiuh.  

Hari 2
Dikasih judul “Seutas Tali Rafia”. HEH?! Apa pula itu. Pengen bikin lanjutan dari cerita hari pertama dan voila, beneran bisa nyambung. Bercerita tentang nenek tua yang gak mau kursi leha-lehanya direbut ama tokoh pria. Si nenek jadi ngarang-ngarang cerita orang gantung diri pake tali rafia deh. Butuh imajinasi tinggi buat ngerti apa mauku di FF ini. FF ini diLIKE ama mas @momo_DM. Bihihiks.

Continue reading

Sayur Asem, Sambal Tomat

image

sumber: vemale.com

“Jul, gue mau makan di warung Bu Yatmi. Ikutan ga?” aku berdiri dari kursi kuliah yang keras itu sambil menggeliat meregangkan otot punggung yang pegal.  

“Warung? Ogah. Alergi gue,” Julian mencibirku sambil melirik tajam.  

“Pret banget dah! Belagu lo! Udah cobain aja.”  

“Tempatnya bersih ga?”  

“Bersih banget. Ada sertifikat dari Dinas Kesehatan segala dipajang di sono,”  

“Buset! Warung jaman sekarang udah pake begituan ye? Canggih.”  

“Lo aja, Jul, yang ketinggalan. Udah buruan, laper gue.”  

Aku dan Julian mengemasi alat tulis yang berserakan di meja. Memasukkan buku asal-asalan ke dalam tas. Perut sudah tidak bisa dikompromi. Sedari tadi dia sudah membuka orkes sendiri waktu Pak Tyo menerangkan tentang ekonomi mikro. Akibat lapar, tak ada satu pun yang nyantol di otakku.  

Julian, sahabatku, salah satu dari beribu orang yang alergi dengan kata-kata warung. Sedangkan aku memiliki kebiasaan menyebut tempat makan dengan sebutan warung, kecuali fast food. Yang terpikir di benak Julian, warung identik dengan pinggir jalan dan kotor. Padahal warung Bu Yatmi yang baru buka 2 bulan dekat kampusku ini tempatnya bersih dan masakannya enak semua. Mengingatkan aku pada masakan ibu di rumah. Favoritku adalah sayur asem ditambah sambal tomat. Jangan lupa dengan nasi hangat dan lauknya terserah mulut mau apa.  

Continue reading

Hujan Dini Hari

image

Ada yang mengetuk jendela kamarku. Ketukannya pelan saja tapi bisa membangunkanku dari tidur yang sudah kulewati, hmm, mungkin sekitar 3 jam. Kulirik jam dinding yang memantulkan cahaya hijau di saat gelap, jarum pendeknya di angka satu, jam panjangnya di angka tiga. Kukedipkan mataku untuk memfokuskan tajam penglihatan. Jendelaku basah. Ternyata rintik hujan yang memanggilku untuk bangun.  

Kusibakkan selimut yang menutupi kedua kakiku, aku beranjak dari tempat tidur dan mulai berjalan ke kamar belakang. Kamarmu. Aku berjingkat berjalan menuju kamarmu, takut tapak kakiku menimbulkan bunyi berisik yang membuatmu terbangun. Di ruang tengah yang memisahkan kamar kita, bisa kucium wangi tanah yang dibasuh air hujan. Aroma mistis yang menimbulkan gairah romantisku sesaat.  

Pintu kamarmu tak tertutup rapat. Kebiasaanmu seperti itu. Dengan lampu yang tak pernah padam, pintu yang tak pernah kau tutup rapat, kamu menjalani rutinitas tidurmu. Seratus delapan puluh derajat berbeda denganku dan itu yang membuat kita tidur terpisah. Kuintip kau dari celah pintu kamar. Kau masih tertidur nyenyak. Padahal suara ketukan rintik hujan terdengar lebih keras di situ. Jendela kamarmu yang langsung menghadap ke taman belakang rumah.  

Continue reading

Orang Ketiga

“Aku rasa akhir-akhir ini kamu mencurigakan,” ujar Adib pada Mia yang sedang memilih sayuran untuk dia masak sore ini.  

“Mencurigakan bagaimana?” Mia bertanya tanpa menoleh ke arah Adib yang sedang memainkan troli belanjaan.  

“Kamu lebih suka menyendiri akhir-akhir ini,” mata Adib menerawang memandangi troli yang baru terisi dengan plastik isi buah apel dan anggur.

“Perasaanmu aja,”  

“Kamu sekarang lebih sibuk dengan Blackberry. Seperti ada yang penting yang selalu kamu nantikan ketimbang aku,” Adib mengambil sayuran yang disorongkan Mia dan meletakkannya ke dalam troli.  

Mereka berdua berjalan ke tempat timbangan sayur. Mia sibuk membuka katalog yang diberikan pegawai supermarket ketika mereka masuk tadi. Adib hanya terdiam menanti alasan yang akan diucapkan Mia.  

“Mia! Gak ada pembelaan dari kamu? Diem aja.”  

“Percuma, Mas Adib. Aku jawab apapun pasti nanti salah. Buat apa pertemuan yang jarang seperti ini diisi dengan berantem?”  

Continue reading