Finale #30HariLagukuBercerita

:”)

Tulisan terakhir untuk #30HariLagukuBercerita.
Didedikasikan kepada seluruh pecinta yang menyenandungkan lagu di tiap ceritanya.

Meneruskan proyek @PosCinta yang pertama kali aku ikuti dulu, #30HariMenulisSuratCinta, di bulan Januari-Februari 2012.

Diawali dengan ikut audisi Tukang Pos baru di @PosCinta bulan Agustus 2012.

Melihat isi timeline Twitter yang tetiba dibanjiri update dari @PosCinta bahwa akan ada proyek baru di bulan September dan sedang dibuka lowongan untuk 5 tukang pos baru. Dengan penuh semangat, menyiapkan kata-kata rayuan diikuti beberapa kalimat yang isinya agak menyombongkan diri (ya masa mau nampilin jeleknya aku). Surat lamaran yang kukirim seperti surat yang disampaikan seseorang yang mulai pedekate dengan orang yang dicintai (cuma dilihatin baik-baiknya aja). Suratnya juga ditulis dengan penuh harapan dan diselipi doa-doa agar terpilih. Walau pada akhirnya, harus menelan pil pahit kekecewaan karena tak terpilih (aku beneran seperti desperate lho. Untung cepet move on). Setelah dipikir-pikir, aku tahu kenapa kok aku belum beruntung ndak ketrima jadi Tukang Pos. Ya karena Tukang Pos itu harus punya koneksi internet yang yahud, sedangkan keseharianku sekarang lebih banyak tinggal di gunung dengan sinyal internet hanya bisa diakses lewat tablet dan blackberry, gak bisa lewat laptop alias sinyalnya empot-empotan (poor me!).
Continue reading

Kan Sudah Kubilang…

“Mmm… Halo, Sarah,”
“Hei.”
“Lagi ngapain nih?”
“Kayak biasa. Nulis.”
“Gak berubah.”
“Gak bakal.”
“Tentang kita lagi?”
“Maaf? Kita?”
“Mmm…”
“Masih ada episode kita?”
“Hehe. Siapa tau.”
“Kamu kan yang mengakhiri.”
“Mulai.”
“Tapi makasih ya. Ideku makin banjir.”
“Nanti bagi royalti kalo jadi best seller.”
“Sapa lo?”
“Mantanmu.”
“Oh.”
“Sekarang aku mau agak serius nih.”
“Gak percaya.”
“Mulai lagi.”
“Kamu yang selalu mendahului kemudian mengakhiri.”
“Beneran ini.”
“Apa?”
“Jadi kita lagi yuk.”
“Demi apa?”
“Demi kumbang yang memuja kembang. Demi bumi yang mengitari matahari.”
“Gombal.”
“Suer.”
“Beneran?”
“Iya.”
“Tapi aku masih menikmati masa sedihku.”
“Kita rubah jadi senyum lagi.”
“Mmm…”
“Jadi?”
“Oke.”
“Ahahaha. Sarah. Sarah. Pertahananmu gampang goyah.”
“Lalu?”
“Kan sudah kubilang saat kita putus, aku ini gay.”
“…”

Choking
Back emotion
I try to keep on hoping for a way,
a reason for us both to come in close
I long for you to hold me, like your boyfriend does
and though my dream is slowly fading
I wanna be the object object object object of your passion
but it’s hopeless

Malchik gay, malchik gay
I can be all your need
Would you please stay with me?
Malchik gay, malchik gay
Apologize,  might’s-have-been
Malchik gay, malchik gay
Can’t erase what i feel
Malchik gay, malchik gay.

T.a.T.u – Malchik Gay

Aku Cinta Kamu, Bukan Latar Belakangmu.

Subnahallah, Subhanallah, Subhanallah.

Berita tentang kecantikannya tak perlu waktu lama untuk terdengar sampai ke telingaku. Hampir semua lelaki di sekolah ini membicarakan dia. Kalau tak salah dengar juga, kecantikannya diturunkan oleh ibunya.  

Namanya Anita. Biasa dipanggil Nita. Anaknya pendiam tapi punya otak encer. Yang aku dengar, dia baru saja pindah ke sekolah ini karena ikut ibunya yang sudah tak kuat lagi menanggung beban hidup di ibu kota. Latar belakang keluarganya menjadi bahan gosip murid-murid perempuan yang lain. Ibunya sudah lama bercerai dengan ayahnya karena suka main pukul.  

Semakin banyak cerita yang kudengar tentang Nita, semakin penasaran aku dibuatnya. Kuberanikan diri untuk selalu mengikuti dia dari belakang saat dia berjalan kaki pulang ke rumah. Dia merasa terganggu. Dia selalu mempercepat langkahnya ketika tahu aku membuntutinya.  

Your charm is like a breeze which touches me and passes
You’re as supple as young branch, which moves me no end
Find some reason to come into my arms, let me destroyed (in your love)  
Continue reading

Perempuan Harus Dilindungi

Aku terlahir di keluarga miskin. Rumah bapak ibuku di pinggiran kali daerah kumuh. Di pagi hari bapakku tidur dan baru keluar rumah untuk bekerja di malam hari. Ibuku penjual gorengan yang sering menitipkan gorengan di kantin sekolahku.

Aku sangat mencintai ibuku. Beliau menyayangiku tulus, tak pernah berteriak memakiku, tak seperti ibu Hasan yang hobi berteriak di waktu maghrib bila Hasan belum pulang ke rumah. Ibu mengajarkanku untuk menghormati perempuan dan selalu takut pada ibu karena surga berada di telapak kaki ibu.

Lingkungan bermainku memang penuh dengan anak berandal. Kampungku terkenal dengan para pemuda yang hobi memalak anak sekolahan di kawasan elit tak jauh dari kampungku. Beberapa pemuda juga sering keluar masuk bui polisi karena tertangkap mencuri lah, kasus tawuran lah atau yang paling sadis adalah pembunuhan.

Continue reading