Gak Kemana-mana

bookshelfporn.com

bookshelfporn.com

Bagi kebanyakan orang, menunggu adalah membosankan. Dulu gue juga punya pendapat sama seperti kebanyakan orang itu. Tapi sekarang gue anti mainstream. Gue mau mencoba semua hal biar menunggu itu gak ngebosenin. Sama seperti yang gue lakuin sekarang, gue nunggu seseorang di warung nasi padang.

Sebenernya gue sendiri agak keheranan kenapa yang ngajak gue ketemuan malah nunjuk meeting point di warung nasi padang. Jamnya gak pas. Sekarang jam digital gue lagi kelap-kelip titik duanya, angkanya gede-gede nunjukkin jam 11:15. Jam sarapan udah lewat, jam makan siang belum mulai. Ato mungkin dia penganut waktu makan bruch alias breakfast digabungin ama lunch? Aduh, gue jadi inget ama diri gue sendiri pas dulu masih jadi anak magang. Sengaja gak sarapan, tapi ngambil waktu coffee time jam 10 di kantor buat bikin mie. Iya, bikin mie. Melas banget nasib gue.

Tuh kan, gue aja udah cerita lumayan panjang. Ya gini yang bikin nunggu itu gak ngebosenin. Belum lagi di tangan gue ada novel yang udah separo gue babat. Tapi gue sengaja menutup novel ini karena gue sekarang pengen ngamatin orang-orang yang lagi makan nasi padang.

Continue reading

DESTINASI

tumblr.com

tumblr.com

Waktuku banyak tersita karena promo yang dikeluarkan Air Asia. Doi secara jelas-jelas bilang (di Twitter) bakal ngeluarin tiket kursi gratis dengan berbagai destinasi buat bulan Agustus 2013-Februari 2014. Gimana aku gak kalang kabut dengan kabar bahagia itu? Yang aku butuhkan hanyalah liburan. Butuh lepas dari penat ini. Mumpung gak ada kerjaan juga setelah kelarin deadline nulis keroyokan bulan Maret.

Aku rela begadang untuk menanti jam 23.00 WIB, jam dikeluarkannya promo tersebut. Aku sudah menyiapkan rencana A, B, C atau D. Bila rencana A gagal, langsung beralih ke B, dan begitu seterusnya. Kalo ternyata tetap gak dapet rencana D? Ya sudah, meratapi nasib saja.

Kurang 15 menit lagi. Mataku mulai ngantuk. Siang tadi aku rela tak tidur karena mencari informasi tentang itinerary para travel blogger. Aku mencari jam-jam terbang Air Asia karena aku panik melihat tujuan yang dikeluarkan Air Asia. Rencana A sepertinya sudah gagal. Gak ada penerbangan lanjutan Surabaya-Kuala Lumpur-Hong Kong. Saking paniknya, aku sudah tak tahu lagi menyimpan bolpoin di mana, langsung kusikat eyeliner pensilku untuk menuliskan jadwal penerbangan Surabaya-Kuala Lumpur dan Kuala Lumpur-Hong Kong. Mereka-reka jadwal mana yang pas biar gak butuh nginep di KL.

Continue reading

LAKI-LAKI TERPILIH

Aku menatap bayangan yang ada di cermin. Wajahnya tak memancarkan rona bahagia. Matanya menyiratkan sesuatu yang sedih sedang terpendam jauh dalam dasarnya. Mata memang tak pernah bohong meski sepintar apapun sang perias memoles mata itu. Aku iba dengan tatapan hampa seperti itu. Bisa kurasakan sembilu kini turut menyakiti hatiku.

Aku melangkah ke depan menuju dia yang sedang menatap cermin. Kuletakkan tanganku di atas pundaknya. Dia menyambut hangat tanganku. Digenggam dan dipegang begitu erat seperti tak ingin terlepas. Air matanya hampir saja menetes. Untung cepat-cepat dia menarik tisu yang ada di depannya dan mengusap lembut matanya.

Aku takut riasan wajahnya menjadi berantakan. Aku tak mau disalahkan oleh perias wajah yang nantinya mengomel melihat wajah kliennya yang sudah ayu berubah menjadi mengerikan karena eyeliner yang luntur.

Kucengkeram pundaknya untuk memberikan kekuatan batin agar dia kuat dan tersenyum. Melihatnya tersenyum bak matahari yang baru muncul dari ufuk timur memberikan guratan merah pada langit fajar. Aku berusaha meyakinkan dia.

Dia adalah calon pengantin paling cantik di dunia. Tak ada yang bisa mengalahkan wajahnya yang rupawan serta senyumnya yang memikat. Aku tak pernah bisa berpaling darinya meskipun banyak perempuan yang menggodaku.

Pintu kamarnya diketuk pelan. Aku segera pergi dan sembunyi di balik lemari yang pintunya terbuka. Kuintip dari daun pintu lemari, seorang perias yang masuk menghampiri si cantik yang berbalut kebaya pengantin. Dirapikannya sanggul sang calon pengantin. Dia tersenyum pada bayangan calon pengantin di cermin.

“Mari, Mbak. Sebentar lagi akadnya dimulai.”

“Iya. Bisa tunggu di luar dulu? Ada yang mau saya kerjakan. Sebentar saja.”

Sang perias mengangguk mantap dan keluar dari kamar. Calon pengantin tetap duduk dan memanggilku untuk keluar dari persembunyianku. Aku berjingkat pelan menghampirinya. Dia kembali memegang tanganku dengan lembut.

“Mas, hari ini aku menikah. Restui pernikahan kami dan aku berjanji akan mencintainya seperti bagaimana dia mencintaiku. Walau kita tahu yang di hatiku, kamu tetap selalu hidup.”

Sang calon pengantin beranjak dari kursi empuknya. Aku melihat punggungnya pergi menjauh dariku. Ingin kuhentikan langkahnya, tapi apalah daya aku tak bisa menghalangi keputusannya.

Hari ini, tepat 1000 hari kepergianku dari dunia. Tepat 1000 hari dimana perempuan ayu yang akan menjadi istri sahabatku lolos dari kecelakaan maut yang menewaskanku. Aku yang begitu mencintainya hingga nafas terakhir akan selalu mendoakannya agar bahagia selamanya dan terus digelimangi kasih sayang oleh sahabatku yang begitu mencintainya.

Dia tahu betul cintanya untuk siapa. Tapi sebagai perempuan biasa, dia pasti memilih laki-laki yang mencintai dia.~ @LadyZwolf

Dan ini adalah komentar sang empunya quote setelah membaca tulisan ini 🙂

image

🙂

Inspirasi

image

kari-shma.tumblr.com

Seperti biasa.  

Sore hari, kedai kopi, meja pojok lengkap dengan colokan, dua MacBook yang menyala, satu cangkir kopi hitam panas, satu gelas tinggi ice blended frapucchino, satu piring french fries, aku dan kamu.  

Sudah berminggu-minggu ini aku absen dari kegiatan menulis. Pekerjaan utamaku menyita waktu begitu banyak. Terlalu banyak deadline yang harus kurampungkan di akhir tahun ini. Proyek menulis duet juga terbengkalai. Aku merasa bersalah pada partnerku yang rajin menulis dan tak pernah lelah menyemangatiku untuk tetap fokus menulis. Tapi inilah aku yang selalu membuat banyak alasan untuk tidak fokus menulis.  

“Dan, beneran ini gak nulis lagi?”  

“Mas, kerjaanku numpuk. Akhir tahun selalu identik dengan laporan.”   Mataku tak berkedip melihat layar MacBook yang mungkin sudah bosan selalu kupandangi tiap hari. Tanganku tak berhenti memencet keyboard dan memainkan mouse.  
Continue reading