A Traveler’s Dream

11.50, LRT Laluan Kelana Jaya
LRT ini bergerak begitu cepat. Beberapa kali ketika kereta berbelok, aku hampir jatuh dan menabrak laki-laki di sebelahku. Kupererat genggamanku pada tiang besi berharap tubuh kecilku bisa lebih seimbang.  

11.53, (masih) LRT Laluan Kelana Jaya
Stesen berikutnya KLCC. Next station KLCC.
Aku bersiap turun. Laki-laki di sebelahku juga nampak bersiap. Tak sengaja mata kami beradu pandang. Dia tersenyum. Aku salah tingkah.

12.03, depan Petronas Twin Tower
So, you wanna take picture here?

Ada suara laki-laki tepat di telinga kiriku. Suaranya pelan tapi hampir membuat ponsel dalam genggamanku terlempar ke mukanya. Seorang laki-laki yang memanggul backpack Deuter warna biru dengan mengenakan kaos bertuliskan I am A Tourist dipadukan celana pendek dengan mengenakan sneaker. Laki-laki yang tadi ada di LRT bersamaku, yang berulang kali kutabrak dalam LRT dan sempat menyunggingkan senyumnya untukku.

Continue reading

Advertisements

A Love Giveaway

image

Halo, halo semuanya. Pada puasa kan yang muslim? Alhamdulillah. Sudah ada yang bolong puasanya? Aku yakin pasti sudah ada. Hehehe.
Kali ini dalam rangka baik hati, dalam rangka lama gak nulis fiksi di blog ini, aku mau mengadakan giveaway dengan hadiah buku Antologi Cinta. Tau buku Antologi Cinta kan? Itu lho buku yang berisi 14 cerita tentang kekuatan cinta dan salah satu penulisnya adalah aku. Ihik.

Terus apa aja persyaratan biar bisa dapetin buku Antologi Cinta langsung dari salah satu penulisnya? *kemudian terdengar teriakan penuh semangat*

Continue reading

Aku Ini Kekasih Afgana

Bintik keringat mulai tampak di dahi dan hidung Afgana. Jemari kanannya meremas lengan kiri. Begitu pula sebaliknya. Kemudian Afgana mulai menggosokkan telapak tangannya. Mulutnya sibuk komat-kamit. Inilah tipikal khas Afgana sebelum naik panggung. Artis baru ya pasti demam panggung.  

“Kita sambut artis pendatang baru kita, Afganaaaaa,” sang MC meneriakkan nama Afgana bak pembawa acara pertandingan tinju melafalkan nama sang petinju.  

Aku menepuk-nepuk pundak Afgana untuk menyalurkan rasa tenang. Tak lupa kurapihkan rambut nakal di atas telinga Afgana. Mau kucium keningnya, tapi dia keburu melesat ke atas panggung. Panggung yang akan mengantarnya mendekat pada kesuksesan. Aku yakin itu.  

Dentingan piano terdengar, suara Afgana juga mengalun indah. Kulihat ke arah penonton. Beberapa penonton berpelukan dan menggoyangkan badannya ke kanan ke kiri. Rupanya penjiwaan Afgana saat menyanyi mampu menghipnotis penonton ikut terlarut dalam lagunya. Ah, Afganaku.  
Continue reading

DOA IBU

“Jangan! Aku gak mau digunting!”

“Tapi Mbak, ini susah keluar kepalanya. Kasian kejepit di dalam. Harus digunting,”  

“Gak mauuuu!”  

Kres!  

**  

Ponselku bunyi tiap lima menit sekali. Sepuluh pesan singkat yang masuk, tiga panggilan tak terjawab. Sengaja tak ada satupun panggilan yang kuangkat dan pesan yang kubalas. Aku terlalu malu untuk mengangkat dan membalasnya di hadapan teman-temanku. Aku sudah bukan anak kecil lagi. Usiaku sudah menginjak 26 tahun. Tapi ibu selalu memperlakukanku seperti anak ayam yang harus digiring ke kandangnya, seperti anak monyet yang nakal.  

Continue reading