Seminggu Kemarin

Entah mengapa otakku terus memikirkan minggu kemarin. Tujuh hari berlalu, namun seolah ada yang merantai ingatannya untuk bergeming di minggu kemarin. Aku tak bisa berhenti memikirkan minggu kemarin.

Musik itu bermain dengan lembut. Aku tak pernah tahu lagu itu. Aku tak mengenal penyanyinya. Tapi aku nyata di minggu kemarin. Ada getaran aneh yang kurasakan di dadaku. Yang hingga hari ini, getaran itu masih terasa tiap kali aku menyentuh dadaku. Minggu kemarin, ada seseorang membelai lembut jiwaku.

Aku masih tak bisa berhenti mengingat lagi tiap detik minggu kemarin. Ketika seorang penyanyi laki-laki menyanyikan lagu itu dan ada suara yang ikut berdendang tepat sebelah telingaku. Ada yang memegang erat kotak berisi kunci hatiku di minggu kemarin.

Continue reading

Jujur Itu (Ternyata) Menyakitkan

Ada banyak hal di dunia ini yang tak bisa dijelaskan dengan logika. Tak bisa dipecahkan dengan rumus matematika maupun fisika. Salah satu contohnya adalah bagaimana bisa bertemu denganmu dan bagaimana aku bisa terjebak pada dua cinta.

Namun, aku harus menyelesaikan ini. Aku harus memilih.

 

Jakarta, Agustus 2014 

**
Lalu, bisakah kau katakan padaku bagaimana yang begitu dekat denganmu menjadi jauh? Dan bagaimana yang tak mungkin menjadi mungkin begitu pula sebaliknya?

Bisakah kau menjawab pertanyaanku?

 

Jakarta, September 2014

**
Telepon itu bergetar. Dengan malas Keyka meraihnya. Ada satu pesan masuk.

Attar.

Key, besok di GI yuk. 

Debaran itu kembali hadir menyeruak dan memenuhi rongga dada Keyka.

Masih inget toh ternyata.

Keyka hanya tersenyum dan segera membalas pesan tadi. Ponsel itu kembali tergeletak di meja. Keyka beranjak dari duduknya dan berpindah pada tempat tidur. Sebelum dia memejamkan mata, dia berdoa dalam hatinya. Sempat terlihat air mata menetes di pelupuk mata Keyka.

**
Continue reading

Beneran?

Hidup di Jakarta ternyata tidak semudah yang Keyka bayangkan. Contoh sederhana saja, untuk menyeberang di jalan Proklamasi sangatlah susah. Selain karena jalan ini satu arah, kendaraan yang melaju tak memberi kesempatan pada pejalan kaki untuk menyeberang, dan yang terparah tak ada zebra cross di sepanjang jalan ini.

Sial. Rutuk Keyka yang sudah berdiri lebih dari tiga menit sebelum akhirnya dia bisa menyeberang dengan tenang.

Ponsel di saku celananya bergetar. Ada pesan masuk. Irman.

Aku udah di pempek Megaria ya.

Tak membalas pesan itu, Keyka menyelipkan ponsel tadi ke saku celana dan mempercepat langkahnya untuk menyeberang jalan Diponegoro menuju bangunan tua, Metropole.

Dinginnya udara AC menerpa wajah Keyka yang kemerahan karena sinar matahari saat ia membuka pintu dorong kayu tersebut. Ia melemparkan pandangan ke sisi kiri, memicingkan mata, dan nampak seorang pria mengangkat dan melambaikan tangan padanya.

Continue reading

Kira-kira Gimana?

Halo. Ini cewe yang semalem itu lhoo.

Ya ampun. Pagi-pagi udah disapain ama cewe cantik. Kyaa.

Hihihi.
Boleh minta foto aku yang semalem ga?

Yaah. Kirain kenapa.
Ternyata minta foto ama doi.
Fufufu.

Emang gak boleh?

Boleh aja.
*image*

Asyiiikk.
Maacih, Kakak.

**
Wanita itu memandangi foto dirinya bersama seorang pria dengan saksama. Dia tersenyum sendiri kemudian tertawa kecil membayangkan sesuatu. Mungkin ini hal bodoh yang aku lakukan, batin sang wanita.

Ditekan halus layar ponselnya mencari sebuah kontak. Dia memencet gambar gagang telepon dan mendengarkan nada sambung pribadi dari speaker ponselnya. Lima detik kemudian ada suara bariton terdengar.

“Halo, Key.”

“Eh, udah bangun? Kirain masih bobo.” Dia melirik jam dinding. Masih jam delapan.

“Nyokap mbangunin pagi. Katanya mau pergi ke Batu.”

“Eh, mau ke manaaa? Ikutaaan.”

“Bener nih?”

“Iya dong. Lagi ga ada acara juga.”

“Ntar aku kabarin ya.”

“Sip.”

“Eh, aku ajak Irman ya? Biar makin seru.”

“Boleh bangeet!”

“Oke, see you then!

Continue reading