Mimpi Foodie-Kemarin-Sore

Sebuah pesan masuk ke WhatsApp, dari seorang teman yang berisi tentang lowongan buat ikutan proyek food tour ke Dubai 3 hari 2 malam. Kriteria yang disebutin salah satunya adalah foodie, yaitu orang yang suka makan, posting foto-foto makanannya di media sosial. Selain itu, tentu ada beberapa kriteria lain yang menurut si temen, aku pantes buat ikutan lowongan tersebut. Awalnya agak ragu sih ya ikut apa ga. Tapi akhirnya aku putusin buat SMS si contact person. SMS gak kekirim. Cari di contact WA, nama si CP juga gak muncul. Aku mulai curiga kalo ini cuma lowongan fiktif. Apalagi Dubai. Mimpi apa diajak makan-makan di Dubai.

Keesokan harinya, temen bilang kalo nomer si CP uda aktif. Di WAku, nama si CP juga udah muncul. Tanpa mikir lagi, aku langsung aja mesej via WA. 

R: “Siang. Ini dg Retha. Bisakah saya dapat info lebih lanjut ttg Dubai Food Tour? Trims.”
CP: “Sudah full mba.”
R: “Oke, tengkyu ya.”
CP: “Sama2. Thank you udah minat ya

Yah sudah lah ya. Belum rejekinya Retha buat dapetin kesempatan ini walaupun angan sudah melayang membayangkan rasanya pergi ke Dubai, gratis, dan diajakin makan. Tapi jujur sih, ada retakan di hatiku kala itu #tsah

30 menit kemudian, ada mesej dari CP masuk via WA

Continue reading

4

3

Berulang kali kutatap sosok dalam cermin di depanku. Apa yang dia kenakan sudah pantas? Bagaimana dengan tatanan rambutnya? Pilihan sepatunya? Ah, perempuan dalam cermin itu tampak kacau. Dia kebingungan. Ya, itu aku.

Vinda menyarankanku untuk memilih baju lengan panjang atau kombinasi dengan coat agak tebal mengingat udara di Bukit Tinggi yang dingin. Dia juga meminjami sepatu flat boot miliknya. Beruntung karena ukuran kakiku sama dengannya. Tapi ada yang aneh pada bayanganku di cermin. Coat warna lilac, skinny jeans dan flat boot. Itu bukan diriku. Benar-benar bukan kepribadianku.

Jam di dinding terus saja berputar. Sudah jam 9.30. Tiga puluh menit lagi, Halim akan ada di lobi apartemen. Aku tak mau menjadi orang yang terlambat dari janji. Langsung kucopot coat dan sepatu boot. Kusapukan bedak, kubuat garis mata di kelopak mata agar mataku tampak tajam, dan kukuaskan perona pipi. Tak lupa pelembab bibir juga kuoles agar bibirku tak tampak kering. Rambutku kubiarkan terkuncir tinggi. Kusambar scarf yang tergantung di dekat meja rias Vinda. Tinggal 5 menit lagi. Segera kukenakan sneakerku yang lumayan kotor. Ah, biar saja. Lebih baik menjadi diri sendiri daripada seharian tak nyaman dengan pakaianku.

Continue reading

2

¹

Namaku Marizkha. Usia 27 tahun. Pekerjaan wiraswasta. Aku memiliki usaha bersama beberapa teman mendirikan tur dan travel. Banyak yang berkata bila kita harus memiliki pekerjaan di mana kita melakukannya dengan ikhlas. Dan ya, sesuai hobi jalan-jalanku dan banyaknya permintaan pasar untuk melakukan traveling, aku memutuskan membuat usaha ini. Nyatanya baru 2 tahun aku menjalankan dan menekuninya, usahaku sudah berkembang dan memiliki banyak pelanggan.

Dengan jam kerja yang fleksibel ini, aku merasa bisa menjadi seorang jumper. Seperti hari ini, pagi sarapan di Jakarta, makan siang di Bandung dan malam harinya aku tidur di Kuala Lumpur. Banyak teman yang iri padaku tentang pesatnya usahaku, tentang kehidupanku yang layaknya kutu loncat bisa berpindah tempat dalam sekejap. Tapi itu menurut mereka. Hidup ini dilihat orang lain hanya dari kulit luarnya saja. Rumput tetangga memang selalu terlihat lebih hijau. Siapa yang tahu bagaimana pontang-pantingnya diriku ketika dulu belum memiliki banyak guide untuk tiap tur. Aku harus menemani rombongan yang berbeda hampir tiap minggunya. Aku tak memiliki banyak waktu berkumpul dengan keluarga dan juga untuk urusan percintaan. Tapi karena aku melakukannya dengan senang hati, beban yang kurasa tak menurunkan semangatku untuk bekerja.

Saat ini memang aku berstatus single. Tak ada pacar atau teman dekat. Jangan katakan kamu juga tak percaya tentang kenyataan ini. Hampir semua meragukan mengapa aku masih betah sendirian di usia 27 ini. Tapi aku bisa apa? Pekerjaan yang lumayan menyita waktu untuk memanjakan diri tentu membuatku belum bisa memikirkan hal ini. Beberapa orang atau mungkin sebagian besar temanku beranggapan bila aku belum bisa berpindah hati dari mantanku. Yah, mantan terakhir yang memiliki begitu banyak kenangan.

Continue reading

Hati-hati Bila ke Bangkok

Bangkok seolah menawarkan segalanya untuk turis. Mulai dari wisata sejarah, wisata kuliner, wisata belanja hingga wisata dunia malam. Apalagi harga-harga di Bangkok tak jauh beda dengan harga di Indonesia (kurs 1 baht bulan Januari kemarin 387 rupiah~400). Banyak mall bagus hingga pasar murah di Bangkok acap membuat mataku hampir copot sekaligus menangis saat melihat dompet. Yah, itulah godaan untuk para wanita. Wisata belanja. Sungguh menggiurkan dan menyesatkan (buatku).

Niatnya pas berangkat bakal belanja hemat, gak usah lah beli aneh-aneh, tapi kenyataannya sodara? Katanya kalo nahan keinginan bisa jadi bisul. Karena aku gak mau ada bisul, terpaksa beberapa keinginan mendesak itu aku kabulkan.

Dalam postingan ini nanti aku bakal ngebahas tempat belanja mana yang gak boleh dilewatkan dan barang apa yang harus dibeli berdasarkan pengalaman ke Bangkok tanggal 22-26 Januari 2014. Hati-hati! Postingan ini mengandung racun buat para wanita. Nyehehehe.

Continue reading